Minggu, 19 April 2026

Donald Trump Anggap Misi Selesai Setelah Dua Hari AS dan Sekutunya Bombardir Suriah

Dua hari setelah Amerika Serikat dan sekutu meluncurkan serangan rudal melawan pemerintah Suriah

Editor: Agustinus Sape
AFP PHOTO/LOUAI BESHARA
Tentara Suriah memeriksa puing-puing bangunan, bagian dari kompleks Pusat Penelitian dan Penelitian Ilmiah di distrik Barzeh, utara Damaskus, saat tur media yang diselenggarakan Kementerian Informasi Suriah, Sabtu (14/4/2018). Amerika Serikat dan sekutunya, Perancis dan Inggris, melancarkan serangan ke Suriah sebagai respons terhadap dugaan serangan senjata kimia yang dilakukan Suriah di kota Douma pada 7 April lalu. 

POS-KUPANG.COM |DAMASKUS - Dua hari setelah Amerika Serikat dan sekutu meluncurkan serangan rudal melawan pemerintah Suriah, hanya sedikit yang berubah dari kebanyakan penduduknya.

Mereka yang telah menghadapi bertahun-tahun perang saudara di negaranya masih beraktivitas seperti biasanya.

The New York Times, seperti dilansir dari Straits Times pada Senin (16/4/2018), melaporkan, di ibu kota Suriah, Damaskus, ratusan orang mendukung rezim presiden mereka Bashar al-Assad.

Sementara, di Raqqa, pihak berwenang disibukkan dengan kegiatan menjinak bom yang ditempatkan oleh kelompok pemberontak.

Baca: Hubungan Amerika dan Rusia Memanas, Waspadai Meletusnya PD III

Kota ini dulunya dikuasai oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Di sisi lain, ribuan penduduk dari Douma, lokasi yang dilaporkan terjadinya serangan kimia sehingga memicu operasi militer AS, berjuang mencari penampungan dan bergabung dengan jutaan warga lainnya yang mengungsi dari rumah mereka.

Lalu sekarang, setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan "misi terselesaikan", bagaimana nasib Suriah?

Suriah akan tetap terperosok dalam status quo akibat konflik yang membuat rakyat Suriah terjebak pertempuran antara kekuatan global dan regional.

PBB terus berupaya untuk mengadakan pembicaraan, di mana kubu Dewan Keamanan terbelah.

Tujuh tahun sudah berlalu dan perang di Suriah diharapkan dapat segera dihentikan.

Namun, negara Barat yang terus "menghukum" Assad justru akan membuat warga Suriah hidup dalam keterpurukan.

"Anda tidak menghukum Assad, Anda menghukum penduduk Suriah," kata Joshua Landis, direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Oklahoma.

Trump memerintahkan serangan pada Sabtu lalu, bersama dengan Inggris dan Perancis, berusaha menekan Assad atas dugaan penggunaan senjata kimia di Douma pada pekan sebelumnya.

Konflik 7 tahun juga telah mengakibatkan Suriah diiris oleh kekuatan-kekuatan dunia, dengan Turki menguasai kota-kota di utara, AS bekerja sama dengan Kurdi di timur, dan Rusia serta Iran membantu Presiden Assad menyingkirkan kantong-kantong pemberontak yang tersisa di tempat lain.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved