Sidang Majelis Sinode GMIT Bahas Kemiskinan dan Gizi Buruk di NTT

Majelis Sinode GMIT menggelar Sidang Majelis Sinode ke-42 di Gedung Kebaktian GMIT Betel Oesapa, Minggu (4/2/2018).

Sidang Majelis Sinode GMIT Bahas Kemiskinan dan Gizi Buruk di NTT
POS KUPANG/EFLIN ROTE
Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Mery Kolimon menyampaikan suara gembala dalam Pembukaan Sidang Majelis Sinode ke-42 di Gereja Betel Oesapa, Minggu (4/2/2018). 

Laporan Reporter Pos Kupang.com, Eflin Rote

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Majelis Sinode GMIT menggelar Sidang Majelis Sinode ke-42 di Gedung Kebaktian GMIT Betel Oesapa, Minggu (4/2/2018).

Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Mery Kolimon mengatakan, hingga kini konteks masyarakat dan alam di mana GMIT melayani masih kuat dicirikan oleh kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, kesehatan dan ekonomi masyarakat serta ancaman kerusakan alam yang semakin parah.

"Salah satu isu besar yang sedang dihadapi masyarakat dan pemerintah NTT adalah isu stuning atau kekerdilan, yaitu tinggi badan kebanyakan anak NTT saat lahir dan dalam pertumbuhan berada di bawah rata-rata," ucap Pendeta Mery melalui Suara Gembala yang disampaikan di hadapan majelis maupun jemaat yang hadir, Minggu (4/2/2018) di Kupang.

Menurut Pendeta Mery, hal ini disebabkan banyak anak NTT mengalami gizi buruk sejak dalam kandungan ibu.

Keadaan ini, menurut Pendeta Mery, akan berpengaruh pada kecerdasan dan kesehatan sang anak.

GMIT berupaya agar dalam pelayanannya mampu memberikan dampak pada penguatan daya spiritual yang berkorelasi dengan perbaikan kualitas hidup manusia dan alam.

Selain menyuarakan soal gizi buruk, Pendeta Mery juga menyinggung soal pesta demokrasi yang akan digelar tahun ini.

Wacana yang diangkat gereja dalam menyambut pilkada adalah soal keberpihakan pada nilai-nilai kehidupan, terutama bagi masyarakat terpinggirkan dan alam yang tereksploitasi.

"Kita harapkan ini menjadi wacana bersama yang lebih luas dalam masyarakat. Gereja perlu mendorong pertimbangan pemilihan kepala daerah yang berpihak kepada penguatan dan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif dan berpihak pada kelestarian lingkungan hidup," tutur Pendeta Mery.

Nantinya soal pilkada akan menjadi perhatian selama persidangan ini sehingga gereja menentukan sikap teologis yang jelas dan memberi tuntunan pastoral kepada umatnya.

Momen sidang ini juga dimanfaatkan untuk peluncuran rumah aman atau shelter untuk korban perdagangan orang.

Rumah yang disebut Rumah Harapan ini merupakan rumah bagi korban perdagangan manusia. Rumah aman ini sebagai bentuk keterlibatan dalam misi Allah.

Majelis Sinode (MS) GMIT periode 2015-2019 kini memasuki tahun layanan yang ketiga. Dari tahun ke tahun sepanjang periode ini, MS GMIT telah berusaha menerjemahkan amanat Haluan Kebijaksanaan Umum Pelayanan (HKUP) yang diamanatkan oleh Sidang Sinode 33 di Rote Ndao ke dalam program-program tahunan.

Secara khusus persidangan MS ke-41 Februari 2017 yang lalu memberi amanat untuk mengerjakan sejumlah hal pada tahun layan 2017. Momen Sidang Majelis Sinode ke-42 menjadi penting untuk membuat evaluasi sejauh mana program pelayanan tahunan dikerjakan dan sejauh mana keterkaitannya dengan pencapaian amanat HKUP 2015-2019, serta dampaknya bagi pembaruan dan perubahan pelayanan di GMIT. (*)

Penulis: Eflin Rote
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved