Theresia Ralo: Berantas TB Butuh Jejaring yang Kuat

Ini yang disarankan Kabid pengendalian dan pemberantasan penyakit (P2P) Dinkes Provinsi NTT Theresia S Ralo soal TB

Theresia Ralo: Berantas TB Butuh Jejaring yang Kuat
Pos Kupang/Maria A.E. Toda
Kepala bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi NTT Theresia Sarlyn Ralo saat memberikan materi dalam kegiatan pertemuan jejaring program penanggulangan tuberkulosis (TB) dan pembentukan tim rencana aksi daerah TB tingkat Provinsi NTT di Hotel Sotis Kupang, Senin (18/12/2017) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria A E Toda

POS-KUPANG.COM |KUPANG - Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr.  Theresia Sarlyn Ralo  mengatakan, untuk memberantas tuberkulosis dinas kesehatan butuh jaringan yang kuat.

Ia mengatakan itu saat memberikan materi dalam pertemuan jejaring program penanggulangan tuberkulosis (TB) dan pembentukan tim rencana aksi daerah TB tingkat provinsi NTT yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTT di Hotel Sotis Kupang, Senin (18/12/2017)

Jaring tersebut meliputi jaringan teknis dan jaringan eksternal. ' "Jaringan teknis seperti rumah sakit, puskesmas, fasilitas kesehatan lainnya, para dokter praktik swasta, pemerintah. Sedangkan untuk jaringan eksternal melalui masyarakat (organisasi) dan juga media massa,'' ujar Dokter Theresia.

Ia berharap agar semua jejaring yang ada bisa saling menguatkan dan bersama-sama memberantas TB di NTT dengan caranya masing-masing. Terutama ia menekankan agar jejaring yang sudah ada bisa memberi edukasi kepada masyarakat, mencari dan menemukan mereka yang terkena TB dan mengajak untuk melakukan pengobatan secara efektif dan tepat.

Selain itu untuk mewujudkan jejaring tersebut  dinas kesehatan provinsi sudah melakukan beberapa pertemuan dan MOU antara pihak dinas kesehatan provinsi dan rumah Sakit Siloam, rumah sakit Angkatan Laut dan beberapa rumah sakit lainnya.

Sedangkan untuk dokter praktik swasta diakui Theresia belum ada keterlibatan yang aktif dalam pemberantasan TB.

''Kita juga sedang berusaha agar apotek juga menjadi salah satu jejaring kita untuk berantas TB. Saat  ini Indonesia menempati urutan nomor 2 tertinggi menderita TB,'' tutur Theresia.

Ia  menambahkan secara data absolut penemuan kasus TB tahun 2016 untuk NTT berjumlah 37.860 suspek. Total total sebanyak 6.276 kasus, BTA (Pemeriksaan dahak) positif sebanyak 3.584, BTA negatif 1.946 dan ekstra paru atau kasus selainTB paru (kulit, kelenjar dan tulang) berjumlah 409.  (*)

Penulis: Maria Enotoda
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved