Senin, 18 Mei 2026

Anda Perlu Tahu, Empat Alasan Mengapa Kita Kadang Perlu Memaki

Saat memaki, tubuh kita akan memproduksi hormon adrenalin yang meminimalisir sinyal rasa sakit dalam otak.

Tayang:
Editor: Rosalina Woso
net
ilustrasi 

Ilustrasi emosi dan marah(KristinaJovanovic

POS-KUPANG.COM--Jangan memandang rendah mereka yang sering memaki. Memaki ternyata memiliki dampak positif bagi kesehatan, asal tidak dilakukan terus menerus.

Emma Byrne, seorang peneliti dan penulis buku 'Swearing Is Good for You' menemukan fakta bahwa memaki membantu kita menyalurkan emosi negatif sehingga berdampak baik bagi kesehatan fisik dan psikis.

Berikut Empat fakta memaki yang perlu anda ketahui:

1. Membantu mengendalikan emosi

Nenek moyang kita diyakini sudah menggunakan kata makian untuk mengekspresikan kemarahan tanpa kekerasan fisik. Dengan memaki, seseorang bisa merasa lebih nyaman dan ketegangannya berkurang, sehingga ia tidak perlu melakukan tindakan lain yang tak terkendali.

Ilustrasi emosi dan marah
Ilustrasi emosi dan marah ((KristinaJovanovic))

Dengan turunnya ketegangan dan emosi, hal yang merugikan tidak perlu terjadi.

Bayangkan bila kita tidak bisa melepaskan amarah dengan memaki, mungkin tangan dan kaki yang akan berbicara, dan itu menimbulkan kerugian lebih besar.

2. Membantu mengatasi rasa sakit

Makian jelas tidak akan membuat Anda gagah. Namun penelitian menunjukkan bahwa memaki bisa meningkatkan toleransi kita terhadap rasa sakit fisik maupun emosi, juga mengurangi frustasi.

Saat memaki, tubuh kita akan memproduksi hormon adrenalin yang meminimalisir sinyal rasa sakit dalam otak.

Hal ini tentunya akan mampu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap rasa sakit, baik secara fisik maupun psikis. Memaki memungkinkan kita untuk merasa lebih baik.

3. Mengaktifkan Otak

Memaki ternyata mengaktifkan bagian otak tertentu yang tidak ditempati kata lain. Bahkan menurut Byrne, memaki bisa membantu penderita stroke untuk belajar bicara kembali.

"Bila seseorang mengalami stroke di sisi kiri otaknya, ada kemungkinan ia akan kehilangan kemampuan bicara," ujarnya.

Ilustrasi otak
Ilustrasi otak (Shutterstock)
Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved