Bocah Lumpuh Otak Dibiarkan Tergolek di Rumah
Saat lahir, Muhammad Fadli memang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Nunukan dan sempat dirawat selama satu minggu.
POS-KUPANG.COM | NUNUKAN - Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, memastikan bahwa kondisi Muhammad Fadli (3), anak ke-3 pasangan Andi Jusmani dan Asriadi, warga RT 07, Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat, tidak termasuk kategori gizi buruk meski hanya memiliki bobot 8 Kg.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Ramsida mengatakan, sejak lahir Fadli telah menderita celebral palsy atau lumpuh otak.
"Karena ada penyakitnya jadi di status gizinya juga berpengaruh. Kesimpulannya anak tersebut memiliki riwayat penyakit, bukan gizi buruk," ujarnya, Kamis (12/10/2017).
Baca: Polres Manggarai Gagal Menciduk Ratusan Penjudi Sabung Ayam di Waso, Ruteng
Saat lahir, Muhammad Fadli memang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Nunukan dan sempat dirawat selama satu minggu.
Namun karena orangtua Fadli dari warga yang tidak mampu dan tidak memiliki kartu jaminan kesehatan nasional membuat mereka memilih membawa pulang dan merawat Fadli di rumah mereka.
"Mereka pendatang dan pernah dirujuk ke RSU, tapi tidak punya BPJS," imbuh Ramsida.
Karena ketidakmampuan ekonomi orangtuanya , Fadli hingga usia 3 tahun hanya dirawat di rumah dengan menggunakan jasa pengobatan alternatif.
Baca: Wah! Ini Alasan Mengapa Eurico Guterres Mundur Dari Partai Amanat Nasional
Secara rutin, pihak puskesmas juga memberikan biskuit dan pendamping gizi setiap kunjungan di posyandu.
Baca juga: Sakit Pencernaan, Sejak Lahir Fadli Hanya Tergolek di Ranjang
Sehari-hari Fadli hanya bisa tergolek di ranjang. Kedua tangan dan kakinya mengecil dan tidak mampu untuk beraktivitas.
Bahkan, untuk sekadar mengangkat kepalanya saja Fadli tidak mampu karena tulang lehernya tidak kuat menyangga.
Baca: HUT Otonomi Lembata, Buku Thomas Ataladjar Huni Perpustakaan Leiden-Belanda
Tiga bulan terakhir Fadli menerima kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat yang diupayakan oleh aparat setempat.
Namun karena tidak memiliki biaya transportasi membawa anak mereka berobat ke RSU, lagi-lagi Fadli hanya dirawat di rumah.
"Tidak ada biaya untuk membawa ke rumah sakit. Kalau ada yang membantu biaya transportasi kami juga mau membawa Fadli berobat," ujar Andi Jusmani, ibu Fadli. (Sukoco)