Wiranto: Peluru Tajam 40 x 46 MM Yang Dibeli Polri Dampaknya Mematikan
Amunisi ada tiga macam, ada 'smoke' (red:asap), dan gas air mata, ada yang tajam, dan yang tajam ini, nanti titip di Mabes TNI
POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto mengungkapkan bahwa dari 5.932 butir peluru yang dibeli Polri untuk Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Kal 40 x 46 milimeter, diantaranya adalah peluru tajam.
Dalam konfrensi persnya di kantor Menkopolhukam, Jakarta Pusat, Jumat (6/10/2017), ia menyebut peluru yang dibeli Polri bersamaan dengan 280 pucuk SAGL Kal 40 x 46 itu, terdiri dari tiga jenis, peluru asap, peluru gas air mata, dan peluru tajam.
"Amunisi ada tiga macam, ada 'smoke' (red:asap), dan gas air mata, ada yang tajam, dan yang tajam ini, nanti titip di Mabes TNI," katanya.
Baca: Casey Neistat, YouTuber Amerika yang Foto Bareng Jokowi Ini Ternyata Lakukan Hal Luar Biasa
Mantan Komandan Kelompok Khusus Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Kolonel (Purn) Fauka Noor Farid, saat dihubungi Tribunnews.com, menyebutkan peluru tajam yang dimaksud Wiranto, bukan berarti peluru yang secara fisik ujungnya tajam.
Istilah tersebut umum digunakan untuk menyebut peluru yang mematikan.
"Jadi tajam itu mematikan, dan peluru kaliber empat puluh kali empat puluh enam yang disebut peluru tajam itu, adalah untuk mematikan, itu peluru anti personil, bukan untuk melumpuhkan," ujarnya.
Peluru yang dimaksud, adalah peluru kaliber 40 x 46 milimeter (mm), untuk ukuran sebesar itu, umumnya peluru-peluru itu disebut dengan granat.
Penyebutan itu antara lain karena fungsi dari peluru itu, bukan untuk menembus material tertentu, seperti pada umumnya peluru di pistol atau senjata laras panjang.
Baca: BREAKING NEWS: Kampung Adat Tarung di Sumba Barat Ludes Terbakar
Peluru yang disebut granat itu, akan meledak dan menyebarkan serpihan besi tajam ke sekeliling, ketika sensor ledaknya dipicu.
Salah satu pemicunya, adalah ketika peluru itu bertabrakan dengan material tertentu.
Peluru itu dilontarkan melalui senjata yang larasnya memadai, antara lain seperti SAGL 40 x 46 mm yang diimpor Polri dari Bulgaria.
Selama ini, Polri sudah memiliki senjata dengan kaliber sebesar itu. Mereka umumnya menggunakan senjata itu, untuk melontarkan granat yang berisi asap, atau gas air mata.
Granat yang dilontarkan itu, menurut Fauka Noor Farid adalah jenis amunisi yang melumpuhkan, dan efektif untuk membubarkan massa.
Dikutip dari arsenal-bg.com, diketahui peluru RLV- High Explosive Fragmentation Jump (HEFJ) yang dibeli Polri, adalah jenis peluru 'low velocity,' berdaya ledak tinggi, yang mampu melesat sejauh 400 meter dengan kecepatan 76 meter per detik.
Pemicu ledakan dari peluru tersebut, antara lain jarak, dan tubrukan dengan material tertentu.
Fauka noor Farid yang sempat puluhan tahun mengabdi di Kopassus TNI AD itu, menyebut di dunia militer, peluru kaliber 40 x 46 mm, digunakan untuk berbagai hal, mulai dari mengganggu konsentrasi musuh, memberikan tekanan psikologis, hingga membunuh musuh dalam jumlah banyak dalam sekali tembakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/senjata-api-bermasalah_20171001_165854.jpg)