Jelang Pensiun dari Sekolah GMIT, Ketua Sinode Merry Kolimon Gelisah Soal Guru ASN
Usia para guru ASN yang mengajar di sekolah-sekolah GMIT sudah tua dan akan memasuki masa pensiun.
Penulis: Edy Hayong | Editor: Agustinus Sape
Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Edy Hayon
POS-KUPANG.COM, OELAMASI - Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Dr. Meri Kolimon merasa gelisah dengan para guru aparatur sipil negara (ASN) yang kini mengabdi di lembaga-lembaga pendidikan di bawah asuhan GMIT.
Pasalnya, usia para guru ASN yang mengajar di sekolah-sekolah GMIT sudah tua dan akan memasuki masa pensiun.
Jika sudah pensiun, maka penggantinya akan sangat susah karena kebijakan Pemerintah Pusat menarik guru ASN dari sekolah swasta ke sekolah negeri.
Meri Kolimon kepada wartawan di Oelamasi usai bertatap muka dengan Bupati Kupang, Dr. Ayub Titu Eki dan jajarannya, Senin (2/10/2017), menjelaskan, kehadiran pengurus Sinode GMIT di Kabupaten Kupang untuk dengar pendapat terkait tenaga pengajar yang berlatar belakang ASN.
Saat ini cukup banyak guru ASN yang mengajar di sekolah-sekolah swasta di bawah GMIT, namun pihaknya gelisah ketika mereka memasuki masa pensiun.
Dirinya mengakui kalau di Kabupaten Kupang tidak ada kebijakan pemerintah soal penarikan guru ASN dari sekolah swasta, tetapi keresahan yang akan muncul ketika para guru ASN ini telah pensiun nanti.
Menurutnya, cukup banyak guru ASN di Kabupaten Kupang yang sudah sepuh dimana dalam satu atau dua tahun kedepan akan pensiun.
Jika ini terjadi maka kedepan tidak ada lagi guru ASN di sekolah GMIT. Itu sebabnya, Sinode GMIT meminta Pemda Kabupaten Kupang untuk memberikan ruang untuk menghadirkan para pengganti guru ASN yang sudah sepuh itu.
Dasar utama pihaknya meminta negara menghadirkan para guru ASN pengganti karena amanat untuk pencerdasan anak bangsa adalah amanat konstitusi entah itu sekolah swasta ataupun negeri.
Negara harus memastikan bahwa pendidikan itu berjalan dengan baik. Swasta melakukan bagiannya diamanat menunjukkan bahwa mencerdaskan anak bangsa adalah tugas negara dalam hal ini pemerintah.
"Makanya kami mendorong pemda-pemda yang ada di NTT untuk memberikan perhatian kepada sekolah swasta dalam hal penempatan guru ASN. Memang ada tantangan karena ini kebijakan pemerintah pusat dimana guru ASN ditempatkan di sekolah negeri. Kami akan berupaya menyampaikan persoalan ini ke tingkatan yang lebih tinggi untuk hak rakyat khususnya anak-anak bangsa yang dididik di sekolah swasta juga dilayani dengan baik," jelasnya.
Menurutnya, sekolah GMIT selama ini kendala utama soal tenaga guru. Sekarang ini lebih kami harapkan pada guru yayasan yang jumlahnya terbatas juga guru honor soal jumlah dan kualitas terbatas. Untuk itu kita akan terus berupaya agar guru ASN bisa tetap mengabdi di sekolah swasta," ujar Meri.(*)