Berita Timor Rote Sabu

Dipukuli, Mulutnya Diramas Iparnya Hingga Diusir dari Rumah, Inilah Derita Anisa Lese

Keputusan dua insan berlainan jenis untuk hidup bersama dalam maligai tentunya agar bahagia dan meneruskan keturunan.

Penulis: Fredrikus Royanto Bau | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/EDY BAU-
Anisia Lese didampingi keluarganya. 

Laporan Wartawan Pos-Kupang, Edy Bau

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA--Keputusan dua insan berlainan jenis untuk hidup bersama dalam maligai tentunya agar bahagia dan meneruskan keturunan.

Namun itu tak pernah dirasakan oleh Anisia Lese (34) warga Kampung Pegawai, Kelurahan Atambua, Kabupaten Belu.

Semenjak tujuh tahun lalu dia memutuskan untuk hidup bersama suaminya Yusak Bau Mali (YBM) dan tinggal bersama keluarga suaminya di satu rumah.

Kehidupan yang dijalaninya awalnya baik-baik saja namun lama kelamaan bak neraka. Dia seringkali dipukuli oleh suaminya, pun dikasari ipar atau kakak perempuan dari suaminya.

Meski demikian, Anisia tetap bertahan hingga di tahun kelima dan mereka menikah secara resmi di tahun 2015 bahkan telah memiliki dua orang anak.

Kejadian terakhir pada tanggal 17 Agustus 2017 dia dipukuli oleh suaminya tanpa alasan jelas namun itu dimaafkan. Sehari berikutnya yakni tanggal 18 Agustus, Anisia kembali mengalami perlakuan kasar dari kakak iparnya, Yeni Bau Mali (YBM) yang adalah seorang guru sekolah dasar di Atambua.

Kepada Pos Kupang di Mapolres Belu, Rabu (6/9/2017) sore, Anisia yang saat itu didampingi oleh keluarganya mengatakan, penganiayaan oleh kakak iparnya itu terjadi pada tanggal 18 Agustus 2017, sekitar pukul 17.30 wita sore.

Kala itu, kakak Iparnya YBM memukulnya sebanyak dua kali dan mengusirnya dari rumah tersebut.

Meski diperlakukan demikian, Anisia tetap tak mau pergi dan berusaha berbicara.

Saat itulah kakak iparnya menghampirinya dan meremas mulutnya sembari meminta dirinya agar tak boleh bicara di depan semua keluarga.

"Tanggal 17 saya dipukul suami tapi saya terima saja. Tanggal 18 kaka ipar saya pukul dan usir saya dari rumah tapi saya tidak mau jalan karena ada suami saya di rumah itu. Di ramas mulut saya katanya jangan bicara," katanya.

Karena tak mau pergi dari rumah itu, lanjutnya, kakak iparnya menariknya keluar hingga dirinya terjatuh dan nyaris pingsan.

Meski mengalami penganiayaan itu, Anisia mengatakan suaminya hanya diam dan tak berusaha membantunya.

Dia lalu berusaha melarikan diri ke tetangga dan mendatangi keluarganya untuk melaporkan masalah itu kepada polisi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved