Pelaku Perampasan Senpi Jadi Tersangka

Hal itu dikatakan Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Simatupang kepada Pos Kupang di Lewoleba, Jumat (18/8/2017).

Pelaku Perampasan Senpi Jadi Tersangka
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Bocah ini sedang memperlihatkan sebuah lubang yang diduga akibat tembakan senjata api yang dilakukan MADL. Gambar diabadikan di samping Toko Buku Caha Jadi-Lewoleba, Sabtu (19/8/2017). 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA – Oknum pelaku perampasan senjata api (senpi), MADL, telah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Saat ini polisi masih mendalami motif di balik tindakan perampasan tersebut.

Hal itu dikatakan Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Simatupang kepada Pos Kupang di Lewoleba, Jumat (18/8/2017).

“Pelaku kasus itu sudah kami tetapkan jadi tersangka,” ujar Kapolres Simatupang.

Dikatakannya, saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka. Pemeriksaan dimaksud untuk mendalami motif tindakan perampasan senjata api dari tangan Bripka Benyamin R alias Benya, personel brimob yang saat ini bertugas di Kabupaten Lembata.

Langkah itu dilakukan, tandas Simatupang, karena oknum tersebut baru tiga hari berada di Lembata.

Dan, dalam waktu itu, MADL melakukan tindakan pidana, merampas senjata api dari tangan aparat keamanan.

Selain tindakan perampasan, pelaku juga menggunakannya dengan menambak tak tentu arah. Padahal oknum tersebut tidak memiliki kewenangan sedikit pun, baik untuk memegang maupun menggunakan senjata api tersebut.

Simatupang mengatakan, dalam kasus tersebut, ada tiga tindakan oknum pelaku. Pertama, menganiaya Benyamin R yang adalah personel brimob yang bertugas di daerah itu.

Dalam kasus tersebut, korban menderita luka robek di kepala, sehingga mendapat enam jahitan.

Berikutnya, merampas senjata api. Setelah itu pelaku langsung menggunakannya, yakni menembak sekehendak hati. Perbuatan tersebut tentunya melanggar undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951.

Simatupang menandaskan, apa pun alasannya, senjata api hanya dipegang oleh aparat yang diberi wewenang untuk itu. Di luar dari itu, termasuk oknum pelaku, memegang senjata api adalah melanggar aturan. Apalagi memegang senjata api dengan cara merampas dari pihak yang berwewenang.

“Ada aturan yang mengatur tentang memegang atau memiliki senjata api. Bila ada oknum memegang bahkan menggunakan senjata api itu, maka oknum tersebut akan dijatuhi sanksi tegas. Aturan telah mengaturnya seperti itu,” tandas Simatupang. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved