Pembangunan Jembatan Weutu-Belu Telan Dana Rp 37 Miliar

Dari papan informasinya diketahui bahwa proyek milik Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi NTT dengan total anggaran Rp 37 miliar lebi

Pembangunan Jembatan Weutu-Belu Telan Dana Rp 37 Miliar
POS KUPANG/EDY BAU
Pekrjaan jembatan yang menyeberangi Kali Weutu-Belu 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Edy Bau

POS KUPANG.COM, ATAMBUA -- Proyek pekerjaan pembangunan Jembatan Haliwen (Weutu) saat ini sedang dalam proses pengerjaan.

Dari papan informasinya diketahui bahwa proyek milik Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi NTT dengan total anggaran Rp 37 miliar lebih ini dikerjakan oleh PT. Tarawesi Arta Mega-PT. Win Alam.

Jangka waktu pelaksanaan selama 300 hari dengan tanggal kontrak sejak 2 Maret 2017.

Proyek pekerjaan pembangunan Jembatan Haliwen (Weutu) saat ini sedang dalam proses pengerjaan.
Proyek pekerjaan pembangunan Jembatan Haliwen (Weutu) saat ini sedang dalam proses pengerjaan. (POS KUPANG/EDY BAU)

Sebelumnya diberitakan, sebagian warga tiga desa di Kecamatan Tasifeto Timur (Tastim) Kabupaten Belu yakni Desa Umaklaran, Desa Sadi dan Desa Sarabau terisolir jika turun hujan dan banjir. Musim hujan, ibarat petaka bagi warga tiga desa ini.

Pasalnya, jalur utama yang lebih dekat menuju Kota Atambua tak bisa dilalui lantaran banjir. Tak ada jembatan atau jalan yang bisa dilalui.

Jarak dari Dusun We Utu, Desa Umaklaran, Kecamatan Tasifeto Timur (Tastim) menuju Haliwen, Atambua hanya sekitar satu kilometer jika ditempu dengan menyeberangi Kali We Utu.

Jarak ini akan bertambah jauh manakala warga harus melalui Fatubenao.

Karena itu, warga lebih memilih menyeberangi Kali We Utu untuk menempuh jarak kebih dekat. Hal ini menjadi sulit ketika musim hujan tiba dan terjadi banjir.

Anak sekolah, guru-guru atau warga yang membawa hasil pertanian akan kesulitan menyeberangi kali yang sedang banjir.

Untuk mengatasi hal ini, para pemuda dan warga dusun We Utu dan sekitarnya harus bergotong-royong membangun jembatanpenyeberangan darurat agar bisa dilalui orang maupun sepeda motor.

Marthen Asa Buti, salah satu warga Dusun We Utu, Desa Umaklaran kepada Pos Kupang, Sabtu (17/12/2016) mengatakan, kelompok pemuda di dusun itu tergerak untuk membantu warga dan anak sekolah yang mau melintas tanpa harus menempuh jarak jauh melalui Fatubenao.

Menurutnya, sudah sejak lama warga menantikan adanya jembatanpenyeberangan namun ketika diusulkan tidak pernah ada jawaban. Dia berharap dalam waktu dekat ada perhatian pemerintah membangun jembatan agar warga wilayah itu bisa menyeberang dengan aman.*

Penulis: Fredrikus Royanto Bau
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved