Jumat, 10 April 2026

Pengamat: Teroris Gunakan Segala Senjata untuk Menyerang Polisi

Pengamat terorisme dari Univesitas Malikussaleh, Aceh, Al Chaidar, mengatakan, kelompok teroris sekarang menggunakan segala senjata untuk melakukan pe

Editor: Alfred Dama
Mianna Manalu (48), tak dapat membendung air matanya, saat menerima kedatangan jasad suaminya di Jalan Abdul Gani Siregar, Desa Silandit Kecamatan Padangsidempuan Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (26/6/2017) pukul 06.00 WIB.(Tribun-Medan.com/Arjuna Bakkara) 

POS KUPANG.COM, JAKARTA -- Pengamat terorisme dari Univesitas Malikussaleh, Aceh, Al Chaidar, mengatakan, kelompok teroris sekarang menggunakan segala senjata untuk melakukan penyerangan targetnya.

Hal ini menanggapi kasus penyerangan terhadap polisi di pos jaga Markas Polda Sumatera Utara, Minggu (25/6/2017) subuh.

Dua terduga teroris menyerang polisi memakai pisau.

Al Chaidar mengatakan, teroris kemungkinan kesulitan mendapatkan bahan peledak sehingga menggunakan segala senjata untuk menyerang targetnya.

Target para teroris di Indonesia, lanjut dia, adalah aparat kepolisian. Sehingga dengan segala senjata tadi, teroris dapat terus melancarkan aksi meski tidak punya senjata api atau bahan peledak.

"Memang iya (dengan segala senjata). Artinya memang kesulitan (dapat peledak), tapi bagi mereka teror itu harus simultan, enggak boleh berhenti," kata Al Chaidar, saat dihubungi Kompas.com, Senin (26/6/2017).

Ia mengatakan, teroris asal Filipina Abu Abdullah sekitar setahun lalu pernah mengimbau seruan semacam itu kepada pengikutnya.

Agar menggunakan senjata seperti pisau dapur atau kendaraan seperti mobil dan truk, untuk menyerang targetnya.

"Ini seperti yang terjadi di luar negeri," ujar Al Chaidar.

Polisi di Indonesia, lanjut dia, masih menjadi target teroris salah satunya karena aksi balasan terhadap penangkapan rekan mereka.

Ia mengatakan, kelompok itu ingin menunjukan kekuatan mereka agar masih ditakuti.

"Tentara juga mungkin nanti jadi target karena mulai terlibat (soal) Marawi. Apalagi nanti kalau RUU Terorisme soal pelibatan tentara (diputuskan)," ujar Al Chaidar.

Al Chaidar mengatakan, kekuatan teroris ini tidak bisa dianggap remeh. Sejumlah daerah di Tanah Air, menurut dia, masih punya potensi untuk munculnya pelaku teroris.

Misalnya Medan, Samarinda, Batam, Jakarta, Bekasi, Surabaya, Semarang, termasuk wilayah Sulawesi Utara yang dekat dengan Filipina.

Peran intelijen menurut penilaian dia sudah maksimal. Hanya, pelaku teror kadang cenderung gunakan komunikasi yang tidak bisa dilacak.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved