Mengenang Haji Mahmud EK, Pendiri Pondok Pesantren Walisanga Ende

Kualitas kepribadiannya ialah kerja keras, rendah hati dan disiplin. Kualitas kepribadian Mahmud merupakan

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

Oleh: Yanuarius James Tafuli
Mahasiswa STFK Ledalero, Guru di Pondok Pesantern Walisanga Ende

POS KUPANG.COM - Haji Mahmud Eka lahir di Lamakera, Solor, Kabupaten Flores Timur 19 April 1939. Setelah mengenyam pendidikan dasar di kampung halamannya, Mahmud melanjutkan studinya di Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur. Dari Larantuka, Mahmud berpetualangan ke Ende. Di Ende, Mahmud menjadi guru agama di PGA (Pendidikan Guru Agama). Selain berbekal pengetahuan yang dimiliki, Mahmud mengajar bidang studi agama Islam di beberapa SD.

Kualitas kepribadiannya ialah kerja keras, rendah hati dan disiplin. Kualitas kepribadian Mahmud merupakan alasan bagi pengambil keputusan mengangkatnya menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Depag (Departemen Kementerian Agama Kabupaten Ende). Mahmud memiliki dua orang istri. Istri pertama bernama Sitti Fatimah Nganda dan istri kedua Khadijah Abubakar, yang juga adalah seorang guru. Mahmud bersama istri pertama dikaruniai tujuh orang anak, sedangkan bersama istri kedua, ia dikaruniai tiga orang anak.

Mahmud adalah pribadi yang haus akan ilmu pengetahuan. Model kepribadian ini sejalan dengan prinsip filosofis Sokrates, `semakin saya tahu semakin saya merasa tidak tahu'. Karena keraguan ini, Muhamad mencari ilmu di PTPM (Penyuluh Tenaga Pembangunan Masyarakat) Ende tahun 1970-an. PTPM merupakan lembaga pendidikan yang dikelola para suster dari Ordo Santa Ursula.

Selain suami, kedua istrinya pernah mengenyam pendidikan di tempat itu. Pada lembaga inilah relasi intens dengan para pastor, bruder, suster dan awam Katolik mulai terjalin. Relasi tersebut tetap terpelihara tatkala ia bersama kedua istri dan putra sulungnya membuka panti asuhan tahun 1981. Pantai asuhan itu kemudian menjadi pondok pesantren. Yayasan pondok pesantren memiliki dua lembaga pendidikan yakni MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah).

Yayasan Pondok Pesantren Ende, berdiri di atas tiga pilar utama. Pertama, membentuk iman dan keyakinan hanya kepada Allah SAW. Kedua, membimbing umat melaksanakan semua hal dengn mengikuti sunah Baginda Rasulullah SAW. Ketiga, membentuk akhlaqul hasanah, akhlaqul karimah dan akhlaqul azhimah seperti dicontohi Sang Nabi. Haji Mahmud meninggal pada tanggal 18 Mei 2011. Haji Mahmud EK dihadapan publik Flores-Lembata dikenal sebagai perintis jalan bagi terciptanya kerjasama dan dialog antaragama.

Spiritualitas Hidup
Berdasarkan catatan sejarah, Pondok Pesantren Walisanga didirikan demi pemanusiaan. Pemanusiaan itu bermula pada tahun 1970-an. Saat itu, Ibu Siti Fatimah Nganda ditempatkan jadi seorang Guru PNS di Wolowaru. Rahmat Tuhan mempertemukannya dengan anak-anak usia sekolah yang buta huruf. Mereka hidup dalam kemiskinan dan tidak berpendidikan.

Selain itu, banyak masyarakat Wolowaru beragama Islam, namun tidak mengerti bagaimana hidup menurut agama yang dianut. Pengalaman itu dibagikan kepada suami, Mahmud EK yang pada waktu itu bertugas di Depag Ende. Pengalaman sang istri tidak jauh berbeda dengan yang dialami sang istri. Mahmud EK merasa prihatin dengan situasi kehidupan beragama yang tidak kondusif di Kabupaten Ende khususnya dan di wilayah Flores-Lembata umumnya. Pemicu situasi tersebut ialah adanya prasangka-prasangka buruk terhadap yang lain, enggan dalam membangun relasi lintas agama dan keangkuhan akan kebenaran religius. Situasi tidk kondusif tersebut semakin diperparah ketika Mahmud EK membuka diri terhadap agama lain, khususnya agama Katolik.

Sebelum ia meninggal, pada 18 September 2008 seorang mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero, melakukan wawancara unkuk penyelesaian program tesis. Dalam wawancara tersebut, Mahmud EK mengatakan, "pada tahun 1970, saya mulai bergaul secara terbuka dengan Gereja. Beberapa nama yang tidak bisa saya lupa ialah P. Ben Back, SVD, Sr. Benedikta, CY, teman kelas di Sekolah Rakyat (SR) di Solor, P Nikolaus Hayon, SVD, para Suster Ursulin, dan masih banyak yang lain. Sejak saat itu orang-orang Islam mulai membenci saya. Saya dicemooh, dituduh sebagai orang yang tidak paham Islam, dicap sebagai pengemis dan macam-macam label buruk. Bahkan pada suatu malam rumah saya dilempar. Waktu itu putri sulung saya sedang duduk bersama saya di ruang depan. Si kecil bertanya, Siapa yang melempar? Agar tidak membuat dia terganggu, saya menipu dengan mengatakan, yang jatuh di atas atap itu mangga yang terlepas dari pegangan kelelawar. Intinya bahwa mereka tidak setuju kalau saya bergul dengan Gereja. Namun saya tetap berani. Sebab saya tahu bahwa pada waktunya mereka akan sadar dan mengikuti jejak yang saya rintis. Alhamdullilah, belakangan ini banyak yang datang ke pondok. Mereka datang antar beras, ikan, sayur dan lain-lain untuk kebutuhan makan minum dari para santri."

Berdasarkan pengalaman dan keprihatinan hidup, Haji Mahmud bersama istrinya berkomitmen melayani orang-orang miskin yang tak berpendidikan. Komitmen mereka ialah mendirikan suatu wadah tempat anak-anak miskin, terlantar dan tidak berpendidikan memperoleh pendidikan nilai. Dalam rangka pemanusiaan yakni mencerdaskan anak-anak terlantar yang terpinggirkan, Haji Mahmud EK membuka diri terhadap Gereja Katolik. Wujud keterbukaan tersebut ialah menerima para Imam dan calon Imam SVD (Societas Verbi Divini) untuk mengajar di Pondok Pesantren. Tujuannya ialah agar santriawan-santrawati memperoleh pendidikan nilai. Kegiatan tersebut terjalin hingga hari ini.

Kerjasama tersebut juga menyata dalam kunjungan-kunjungan dialog keagamaan antara Pondok Pesantren dan Gereja Katolik. Kegiatan kunjungan tersebut dilaksanakan saat perayaan-perayaan penting dalam Gereja katolik ataupun saat perayaan Khusus dalam Serikat Sabda Allah (SVD).

Menerobos Batas Menembus Prasangka
Menerobos batas menembus prasangka merupakan ide yang tepat untuk membahasakan seluruh perjuangan Haji Mahmud EK. Perjuangan Mahmud EK sesungguhnya penuh rintangan. Rintangan tersebut yakni difitnah dan dijauhi orang-orang yang seiman. Meskipun menemui berbagai rintangan, ia tetap optimis perjuangannya itu bukan atas nama agama melainkan atas nama kemanusiaan.

Melalui prinsip menerobos batas menembus prasangka, saya teringat akan ide Hegel tentang dialektika. Konsep dialektika hegel untuk membuktikan kebenaran. Hegel memahami seluruh sejarah itu bersifat dialektis. Sejarah yang dialektis terjadi dalam proses panjang. Proses dialektis berawal dari tesis (pernyataan khusus) lalu dibuat antitesis (kontradiksi terhadap tesis) dan sintesis (resolusi yang diperoleh dari tesis dan antitesis). Oleh karena itu, prinsip menerobos batas menembus prasangka pada hemat saya sejalan dengan ide Hegel tentang dialektika.

Menerobos batas dalam konteks perjuangan Haji Mahmud EK ialah menerobos batas-batas agama. Dalam memperjuangkan kemanusiaan tidak ada garis pembatas yang membedakan suku, ras, etnis, golongan dan agama. Alasan dasar dalam perjuangan itu ialah nilai-nilai kemanusiaan. Nilai tersebut berhubungan dengan harkat dan martabat manusia yakni hak dasariah manusia. Salah satu hak yang diperjuangkan ialah hak memperoleh pendidikan. Anak-anak yang tidak berpendidikan dan hidup dalam kemiskinan diperjuangkan memperoleh pendidikan yang layak. Karena itu demi pemanusiaan, siapa saja boleh terlibat.

Akibat dari usaha memperjuangkan kemanusiaan, Haji Mahmud EK dibenci orang-orang yang seiman dengannya. Ia dicemooh sebagai pengemis sekaligus sebagai pribadi yang tidak paham ajaran-ajaran dalam agama Islam. Bahkan rumahnya dilempar karena optimismenya demi memperjuangkan kemanusiaan dengan melibatkan agama lain.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved