VIDEO: Selektif Pilih Pacar agar Tidak Kena 'Pok'
Dalam berpacaran orang muda harus bisa menyeleksi siapa yang akan menjadi pacarnya. Dalam arti secara objektif dia melihat kekuatan atau kelebihan dan
Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: Alfred Dama
Laporan Wartawan Pos Kupang, Vemy Leo
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Dalam berpacaran orang muda harus bisa menyeleksi siapa yang akan menjadi pacarnya. Dalam arti secara objektif dia melihat kekuatan atau kelebihan dan kekurangan atau keterbatasanya.
"Kalau kekuatannya oke. Tapi kalau ada keterbatasan, maka hendaknya harus dipertimbangkan secara baik apakah keterbatasan itu bisa diterima dan bisa dirubah menjadi baik atau tidak. Jangan sampai, dengan keterbatasan itu dia akan menjadi sasaran empuk untuk kena 'pok' atau mengalami tindak kekerasan baik fisik maupun verbal," kata Psikolog Ben Labre, di Dinas PPO NTT, Rabu (21/6/2017) sore.
Ben juga mengingatkan agar dalam proses berpacaran itu setiap pihak harus saling belajar satu sama lainnya.
"Berpacaran harus atas dasar cinta dan kasih. Tapi kalau berpacaran hanya didasari oleh napsu dan insting seksual maka itu tidak baik. Oleh karena itu kepada orang muda berpacaranlah yang sehat dan selala menjaga jarak antara satu dengan lan. Kalau ulang tahun mau berciuman ya cium kering, artinya cium saja di dahinya, di ujung hidungnya atau cium saja di pipinya. Hindari ciuman basah di bibir.
Ben juga berharap setiap pasangan bisa melihat cinta sejati dan bukan. Kita harus bisa melihat manakah cinta sejati dan cinta hanya berdasarkan fisik semata. Orang yang tulus mencintai kita akan menunjukkan sikap sabar, terbuka, selalu komunikas, tidak berbohong.dan tidak ringan tangan," kata Ben.
Ben dimintai tanggapannya soal kekerasan yang terjadi selama masa pacaran.
Menurut Ben, faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam masa pacaran itu sangat kompleks.
"Dilihat dari sudut pandang psikologis, Manusia sebenarnya punya dua dorongan dalam dirinya yakni dorongan positif dan dorongan nengatif. Dan tindakan apa yang akan dilakukan itu tergantung dari dorongan apa yang lebih potensial terjadi saat itu," kata Ben.
Karenanya manusia, demikian Ben, harus bisa menemukan jadi dirinya dan harus bisa mengontrol dua dorongan itu agar yang satu terutama dorongan yang negatif itu tidak lebih besar dibandingkan dorongan yang positif.
"Dalam masa pacaran misalnya, seorang pria hendak minta sesuatu dari pasangannya, lalu pasangannya tidak kasih, maka jika saat itu dorongan negatifnya lebih dominan maka saat itu pria tadi akan pok pak memukuli si perempuan. Tapi jika muncul dorongan positif maka si pria tidak akan melakukan hal negatif para perempuan itu," kata Ben.
Lebih lanjut Ben mengatakan, dalam bercinta atau berpacaran ada 3 tahapan atau dimensi yang akan dilalui para pasangan.
Pertama dimensi passion yakni hasrat, bagaimana muncul ketertarikan fisik dan seksual. Kedua, dimensi Intimesi atau keintiman. Dimana masa ini orang yang berpacaran akan mulai saling terbuka dan komunikasi satu sama lainnya.
Dalam tahap keintiman ini pasangan sudah saling terbuka, tak ada lagi yang disembunyikan. Jika ada masalah selalu dibicarakan dan diselesaikan. Ketiga, dimensi komitmen yakni sudah dalam tahap keputusan bahwa kedua pasangan akan bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan dan akan menjadi teman hidup sepanjang hayat.
"Dalam ketiga dimensi ini bisa saja terjadi kekerasan, namun yang paling besar terjadinya kekerasan yakni pada dimensi satu, sedangkan dimensi dua dan tiga kemungkinannya kecil," kata Ben.
Agar dapat terhindar dari kekerasan dalam pacaran, Ben mengatakan, kedua belah pihak harus saling menghargai dan menghormati dan selalu mengutamakan komunikasi saat masa pacaran.