Pertanian Organik Hasilkan Pangan Sehat
PRODUKSI dan produktivitas produk pertanian khususnya padi di DI Mbay terus menurun dalam sepuluh tahun terakhir.
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Kanis Jehola
POS KUPANG.COM, MBAY - PRODUKSI dan produktivitas produk pertanian khususnya padi di DI Mbay terus menurun dalam sepuluh tahun terakhir. Hama yang tak mengenal musim, kesuburan tanah yang terus tergerus, ekosistem rusak akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia yang tak terkendali. Mbay tidak lagi menjadi lumbung beras NTT seperti julukannya di masa lalau.
Tidak hanya penyakit tanaman yang bermunculan, tetapi penyakit manusia. Berbagai jenis penyakit manusia seperti diabetes, kolestrol, hipertensi, lever, stroke yang sebelumnya jarang diderita masyarakat Mbay saat ini menjadi penyakit orang Mbay. Munculnya berbagai jenis penyakit ini diduga ada kaitannya dengan pangan yang dikonsumsi masyarakat di daerah itu.
Kondisi ini memaksa salah satu LSM di daerah itu, YMTM dan mitra kerjanya, VECO Indonesia untuk mencari strategi baru menyelamatkan lahan pertanian di Mbay sekaligus menyelamatkan generasi bangsa dari racun mematikan yang tersisa pada produk-produk pertanian. Pola pertanian organik menjadi salah satu solusi yang ditawarkan ke petani di DI Mbay.
Pola pertanian organik yang semula hanya diterapkan pada pertanian lahan kering, pada tahun 2007 mulai diperkenalkan dan diuji coba pada lahan irigasi teknis atau lahan basah.
Program ini mendapat reaksi beragam dari petani di DI Mbay. Mayoritas kurang bersahabat. Petani yang sudah terbiasa dengan pupuk kimia dan pestisida kimia menolak sistem pertanian organik. Selain rumit dan memakan waktu serta energi, produksi kurang memuaskan pada awal penerapannya.
Lalu, mengapa harus beralih ke organik? Ketua Asosiasi Tani Organik Mbay (ATOM), Yoakim Judha, yang ditemui di Kantor Koperasi Atom, medio April lalu, mengatakan, banyak keuntungan yang didapatkan dari sistem pertanian organik. Pertama, pertanian organik menghasilkan pangan sehat. Sadar atau tidak, kata Yoakim, sarana produksi berbahan kimia merupakan pembunuh jangka panjang. Bahkan ada petani yang meninggal dunia di tengah sawah karena keracunan.
Kedua, pertanian organik mempertahankan kesuburan tanah bahkan meningkatkan kesuburan tanah. Ketiga, menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam pola pertanian organik, jelas Yoakim, hama tidak dibunuh tetapi dipindahkan dengan cara membuatnya tidak betah. Tidak hanya hama, burung pipit dan gulma yang menjadi musuh petani juga kabur.
Keempat, bahan dasar untuk pestisida dan pupuk organik mudah didapatkan dan murah karena semua pohon di sekitar petani bisa dimanfaatkan dan petani bisa melakukan secara swadaya.
Kelima, konsumsi produk pangan organik bisa membuat tubuh tetap awet dan secara ekonomis lebih menguntungkan. Perbedaan harga produk pangan organik dengan produk pangan non organik cukup signifikan. Beras organik misalnya, harganya jauh lebih tinggi dibanding beras non organik. Saat ini rata-rata harga beras organik khususnya beras organik merah dan hitam Rp 18.000/kg. Sedangkan harga beras non organik Rp 9.000/kg dan cenderung turun. (dea)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pakai-pupuk-organik-klemens-ribut-dengan-istrinya_20170604_194323.jpg)