Senin, 13 April 2026

Abaikan Peringatan China dan Amerika Serikat, Korut Tembakkan Lagi Rudal Balistik

Peluncuran terbaru, yang menurut Korea Selatan, diluncurkan pada Sabtu pagi tetapi gagal mencapai targetnya, seperti dilaporkan kantor berita.

Editor: Rosalina Woso
EPA/BBC
Korut unjuk kekuatan melawan kemungkinan adanya agresi negara lain, terutama yang disangka Amerika Serikat. 

POS KUPANG.COM -- Korea Utara terus membandel dengan kembali menembakkan rudalnya ke Laut Jepang, Sabtu (29/4/2017), meski Amerika Serikat dan negara-negara tetangga, termasuk China, mendesaknya untuk menghentikan provokasi.

Pyongyang di bawah kendali pemimpin muda, Kim Jong Un, tak mengindahkan tekanan internasional di mana AS bersiap menerapkan sanksi baru atas program nuklir dan rudal balistiknya.

Peluncuran terbaru, yang menurut Korea Selatan, diluncurkan pada Sabtu pagi tetapi gagal mencapai targetnya, seperti dilaporkan kantor berita.

Uji rudal balistik Korut terbaru itu terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, memperingatkan DK PBB tentang "konsekuensi bencana" jika komunitas internasional - terutama lagi China - gagal menekan Korut untuk meningalkan program senjata berbahayanya itu.

Menurut Tillerson, pilihan militer untuk menangani Korut masih tersedia "di atas meja". Ia memperingatkan tentang hal itu dalam pidato pertamanya kepada DK PBB tersebut.

Peluncuran rudal Korut yang semakin sering yang diikuti latihan perang menggunakan peluru tajam sedara besar-besaran memicu ketegangan di Semenanjung Korea.

Terkait dengan hal itu, Washington dan Pyongyang terlibat dalam retorika yang intinya saling mengancam yang ditandai juga oleh kesiapan fisik militer yang semakin ketat.

Namun, pergerakan armada atau kekuatan militer AS ke kawasan juga mendapat sorotan dari China dan Rusia, yang terkesang mengambang dalam menyikapi krisis di Semenanjung Korea.

Tillerson, Jumat (28/4/2017), mengetuai sidang tingkat tinggi DK PBB tentang ancaman yang ditimbulkan Korut yang ingin membuat bom nuklir.

Tillerson mengimbau DK PBB untuk mengambil tindakan sebelum Korut berhasil dengan tujuannya, sebagaimana dilaporkan Voice of America, Sabtu (29/4/2017).

"Ancaman serangan nuklir Korut terhadap Seoul atau Tokyo nyata dan ada kemungkinan hanya soal waktu sebelum Korut mengembangkan kemampuan untuk menyerang AS," kata Tillerson.

"Bahkan, Korut sudah berulangkali mengklaim akan merencanakan serangan tersebut. Mengingat klaim itu, AS tidak dapat berdiam diri," imbuhnya.

Tillerson mendesak masyarakat internasional untuk melaksanakan sepenuhnya sanksi-sanksi PBB dan membekukan hubungan diplomatik dengan Korut.

"Dengan tiap percobaan nuklir dan misil yang berturut-turut Korut mendorong Asia timur laut dan dunia semakin dekat instabilitas dan konflik yang luas," katanya.

Sementara Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Jumat (28/4/2017), mengatakan, "dialog dan perundingan" adalah satu-satunya pilihan dalam menangani ancaman nuklir Korut.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved