Senin, 13 April 2026

Pria dari 'Surga Terakhir di Bumi' Cari Istri Penyabar Asal Asia

Saat Athaya Slaetalid pertama kali pindah dari Thailand ke Kepulauan Faroe, musim dingin bertahan selama enam bulan.

Editor: Rosalina Woso
VIA BBC INDONESIA
Athaya Slaetalid dengan suaminya Jan dan anak mereka Jacob. 

POS KUPANG.COM -- Kepulauan Faroe kekurangan populasi perempuan.

Kondisi ini mendorong pria-pria di sana mencari istri dari tempat yang jauh, Thailand dan Filipina khususnya.

Namun bagaimana rasanya bagi para perempuan yang menukar cuaca tropis dengan kepulauan yang sangat berangin ini?

Saat Athaya Slaetalid pertama kali pindah dari Thailand ke Kepulauan Faroe, musim dingin bertahan selama enam bulan.

Dia harus duduk di depan pemanas sepanjang hari.

Maklum, kepulauan yang terdiri 18 pulau ini, terletak di antara Norwegia dan Islandia.

"Orang-orang mengajak saya untuk ke luar karena matahari sedang bersinar, namun saya mengatakan, 'tidak! tinggalkan saya sendiri, saya kedinginan'," ucapnya.

Awalnya, hijrah ke tempat ini sejak enam tahun yang lalu merupakan hal berat bagi Athaya.

Dia bertemu suaminya, Jan, ketika pria itu bekerja dengan seorang teman yang memulai usaha di Thailand.

Jan sudah tahu bahwa akan sangat menantang bagi Athaya untuk pindah ke Kepulauan Faroe.

"Saya khawatir karena apa yang dia tinggalkan dan apa yang dia tuju sama sekali berlawanan," kata Jan.

"Namun saya mengenal Athaya, dan saya tahu dia akan mengatasinya."

Ada lebih dari 300 perempuan dari Thailand dan Filipina yang saat ini tinggal di Kepulauan Faroe.

Kelihatannya tidak banyak, namun di kepulauan yang hanya berpenduduk 50.000 orang, para perempuan ini menjadi etnis minoritas terbesar.

Beberapa tahun belakangan, penduduk Faroe mengalami penurunan jumlah populasi karena anak muda pindah ke luar negeri.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved