Uji Keaslian Arca Memakai Nuklir

"Saya menjadi bangga terhadap nenek moyang kita yang ternyata memiliki kemampuan canggih dalam keterbatasan," katanya.

Uji Keaslian Arca Memakai Nuklir
Pos Kupang/ant
Arsip - Salah satu arca Maha Nandi atau Lembu Kemakmuran yang di dalamnya tertanam relic suci, milik Yan Tek Hao, di Surabaya, Senin (31/10/2011). (ANTARA FOTO/Eric Ireng)

POS KUPANG.COM, SURABAYA - Begitu mendengar istilah "nuklir", di benak banyak orang biasanya muncul asumsi negatif bahwa hal itu tentang bencana dalam skala maha dahsyat.

Karenanya, begitu seorang motivator "corporate" dari PT Total Quality Surabaya, Jawa Timur, Johan Yan menemukan manfaat nuklir untuk menguji keaslian benda cagar budaya, seperti arca, hal itu rasanya sulit dipercaya.

Bersama dua peneliti yakni Prof Drs Samin Prihatin (ahli nuklir kimia Badan Tenaga Nulir Nasional/BATAN) dan Prof Dr KP Timbul Haryono Hadiningrat MSc (pakar arkeometalurgi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), Johan Yan menemukan metode baru untuk menguji keaslian arca Maha Nandi selama sekitar lima tahun.

Selain temuan metode baru dengan menembakkan sinar nuklir ke benda cagar budaya itu, teknologi nuklir sebagai alat uji keaslian benda cagar budaya juga menyelamatkan nyawa para peneliti cagar budaya yang jumlahnya tidak banyak.

"Peneliti cagar budaya itu terancam nyawanya dan hal itu bukan cerita rahasia lagi karena mereka sering menghadapi mafia benda cagar budaya yang ingin barang miliknya yang tidak asli dinyatakan asli dengan sedikit ancaman," ucapnya dalam sebuah wawancara khusus di Surabaya, Januari 2017.

Pemilik Museum Maha Nandi, Jalan Raya Jemursari, Surabaya, yang bergelar KRA Johan Yan Hadiningrat itu menjelaskan teknologi nuklir sebagai alat uji keaslian benda cagar budaya itu memiliki banyak nilai tambah.

"Dengan sinar nuklir yang ditembakkan ke benda cagar budaya oleh ahlinya (Prof Samin Prihatin), penelitian keaslian benda cagar budaya itu tidak perlu dilakukan dengan mencukil bendanya, sehingga benda cagar budaya itu tidak cacat," tuturnya.

Selanjutnya, Prof Timbul Haryono sebagai pakar arkeometalurgi akan "membaca" komponen kuno di dalamnya yang dengan teknologi nuklir itu akan terlihat semuanya hingga bagian terkecil (partikel).

"Saya menjadi bangga terhadap nenek moyang kita yang ternyata memiliki kemampuan canggih dalam keterbatasan," katanya.

Sebagai ungkapan syukur, Johan Yan membukukan hasil temuan itu dalam sebuah buku berjudul "Maha Nandi Dalam Perspektif Arkeometalurgi dan Teknologi Nuklir" yang sebanyak 5.000 buku itu sudah dibagikan secara gratis kepada museum di Indonesia pada 5 Februari 2017.

Halaman
123
Editor: Marsel Ali
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved