Di Malaka, Beasiswa Dialihkan Tanpa Kesepakatan Orang Tua Protes
karena dana bantuan BSM (beasiswa miskin) oleh kepala sekolah secara sepihak mengalihkan beasiswa dalam bentuk peralatan
POS KUPANG.COM, BETUN-Ratusan orangtua siswa SD Inpres Umasukaer, Kecamatan Malaka Tengah mengelar aksi protes kepada kepala sekolah di halaman sekolah itu, Kamis (19/1/2017).
Aksi ini merupakan bentuk protes para orangtua, karena dana bantuan BSM (beasiswa miskin) oleh kepala sekolah SDI Umasukaer, Gabriel Seran Metak secara sepihak mengalihkan beasiswa tersebut dari uang tunai ke peralatan sekolah.
Pasalnya, dana bantuan BSM tahun 2016 yang seharusnya diterima oleh siswa secara tunai, namun pada Rabu (18/1/2017) kepala sekolah telah melakukan pembagian dalam bentuk perlengkapan siswa seperti buku, peralatan tulis, tas, sepatu dan seragam olahraga.
Sesuai bukti perincian belanja yang diterima oleh orangtua siswa, dinilai telah terjadi mark up harga karena perlengkapan yang dibelanjakan sama dengan nilai uang BSM yang menjadi hak para siswa, sehingga tidak satu rupiah pun diterima oleh para siswa.
"Kami datang hanya mau tanya uang beasiswa anak kami itu dimana. Semua barang yang anak-anak kami terima itu harganya terlalu mahal, tidak ada yang murah. Sementara pakaian olahraga yang dijual oleh kepala sekolah itu juga adalah pakaian bekas yang sudah dipakai oleh siswa untuk kegiatan gerak jalan 17 Agustus 2016 kemarin. Kami tidak setuju kalau beasiswa itu dialihkan dalam bentuk barang tetapi harus uang tunai," protes Yasinta Luruk.
Beberapa orangtua siswa lainnya seperti Maria Magdalena, Wilhelmina Uduk dan Aplonia Hoar menuturkan, kepala sekolah pernah menggelar rapat bersama orangtua murid terkait rencana penerimaan beasiswa itu dan ditawarkan untuk belanja perlengkapan sekolah, namun rencana itu tidak disetujui oleh seluruh orangtua.
"Ini tidak tahu kepala sekolah beli dimana, kemarin (Rabu 18/1/2017), anak-anak pulang sekolah bawa barang dan kami ditunjukan rincian belanja yang ditulis oleh kepala sekolah. Makanya kami tidak terima, kami hanya tahu anak-anak punya beasiswa itu Rp 450 ribu per siswa.
Siapa yang suruh beli dan beli barang jelek semua seperti tas, buku, baru terima kemarin dan belum pakai tapi sudah sobek dan rosleting sudah rusak semua. Sudah begini baru harga mahal lagi. Pokoknya kami tidak mau tahu, anak-anak punya uang harus tetap utuh," cetus Maria yang diamini kolega-koleganya.
Informasi yang dihimpun Pos Kupang di SDI Umasukaer, menyebutkan kebijakan kepala sekolah itu tidak diketahui oleh dewan guru pada sekolah itu, sehingga ketika para orangtua siswa melakukan protes tidak seorang guru pun yang bisa memberikan klarifikasi.
"Kami sama sekali tidak tahu. Itu semua kepala sekolah yang atur. Kami juga heran, tiba-tiba kepala sekolah bagi bantuan kepada siswa. Nanti ini semua tunggu kepala sekolah saja," ujar salah seorang guru yang enggan namanya ditulis.
Aksi yang mayoritas terdiri dari kaum ibu-ibu, itu mendapat pengamanan dari aparat Polsek Malaka Tengah dipimpin
Kapolsek, Iptu Frids Mada.
Kapolsek Frids menegaskan, aksi itu diharapkan tidak menganggu aktivitas belajar mengajar bagi para siswa di sekolah, apalagi aksi tersebut digelar di lingkungan sekolah.
"Kita kawal, agar aksi ini tertib dan aman serta dapat memberikan rasa nyaman bagi anak didik untuk sekolah. Intinya aksi ini jangan sampai menganggu aktivitas sekolah," imbuhnya.
Kepala sekolah, Gabriel Seran Metak belum dapat dikonfirmasi. Pasalnya, selain tidak masuk sekolah, di kediamannya pun tidak ada. Dirinya dikabarkan sedang melakukan perjalanan keluar daerah dan tetap tidak dapat dikonfirmasi melalui telepon genggam karena ketinggalan di rumahnya. (din)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dana-beasiswa-di-malaka_20170120_092333.jpg)