Hati Salim Ingin Terus Berbagi, Meski Melukis dengan Kaki
Ini kalimat yang terucap dari Salim Harama saat menggoreskan kuas bercat merah ke kanvas di lantai dua rumahnya di Dusun Pogung Lor,
POS KUPANG.COM, SLEMAN -- "Orang membeli bukan karena kasihan, tetapi karena kualitas karya"
Ini kalimat yang terucap dari Salim Harama saat menggoreskan kuas bercat merah ke kanvas di lantai dua rumahnya di Dusun Pogung Lor, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman.
Salim memang sedang menyelesaikan salah satu karya lukisnya. Goresan kuasnya mengisi ruang-ruang kosong di kanvasnya melengkapi wujud wajah, tangan mengepal serta jari yang sedang memegang sebuah amplop yang sudah ada.
Setiap kali cat yang digoreskannya habis, kakinya meraih botol kecil di depannya. Dengan jari-jari kakinya, Salim membuka tutup dan menuangkan di sebuah plastik bulat.
Kakinya lantas kembali meraih kuas kecil dan mencelupkan ke cat berwarna yang baru saja dituangnya. Sembari mencondongkan badannya ke belakang, Salim menjulurkan kaki kanannya dan melanjutkan menggoreskan kuas di kanvas.
Salim memang bukan pelukis biasa. Pria kelahiran Boyolali 27 Juli 1968 ini membuat karya lukisan dengan kakinya. Sebab kecelakaan kereta api yang terjadi pada 1979 membuatnya kedua tangannya harus diamputasi.
"Waktu kelas 4 SD, tangan saya harus diamputasi karena kecelakaan saat naik kereta api. Kejadianya di stasiun kecil dekat rumah," ucap Salim, Selasa (17/1/2017).
Dia memutuskan hijrah ke Yogyakarta pada tahun 1990 untuk meraih cita-citanya sebagai seorang tour guide sekaligus untuk masuk ke salah satu pusat rehabilitasi di Yogyakarta.
"Saya ditanya setelah lulus SMA mau apa? Saya jawab pengen jadi tour guide. Jadi harus ke Yogyakarta, saya melanjutkan kelas 3 di SMA Nusantara daerah Sosrowijayan," ungkapnya.
Gayung bersambut. Keinginannya menjadi tour guide membawanya belajar Bahasa Inggris di Selandia Baru. Di negara itu, bapak dua anak ini belajar bahasa Inggris selama satu tahun.
"Oleh pusat rehabilitasi diberikan kesempatan belajar Bahasa Inggris di Selandia Baru itu tahun 1991. Saya di sana satu tahun," tuturnya.
Setelah pulang dari Selandia Baru dan lulus dari SMA Nusantara, Salim lantas bekerja di salah satu Yayasan Rehabilitasi di Yogyakarta. Saat itu, Salim bertugas sebagai penerjemah bahasa Inggris dan membantu di kantor administrasi.
Sekitar tahun 1995, pria berusia 48 tahun ini ikut menemani pameran kerajinan hasil karya divabel di Yayasan Rehabilitas tempatnya bekerja. Di pameran itu, Salim bertemu dengan seorang teman difabel yang menganjurkan agar belajar melukis.
"Ketemu teman dia pelukis juga, bilang kalau ada waktu mbok belajar melukis. Tetapi waktu itu hati saya belum tertarik belajar melukis," kata Salim.
Seiring berjalannya waktu, ajakan itu terngiang-ngiang di pikiran Salim. Hingga suatu waktu, sekitar tahun 1997-1998 saat pameran di Jakarta, dia kembali bertemu dengan temannya kembali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/salim-harama-saat-menyelesaikan-salah-satu-karya-lukisanya_20170119_101144.jpg)