Sugito, Merajut Desa Mandiri di Lereng Gunung Slamet

Semua tak lepas dari upaya Sugito (48) mengembangkan potensi daerah sesuai kearifan lokal.

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO S
Sugito, merajut Desa Mandiri di Lereng Slamet. 

Beberapa warung makan dibangun di tepi jalan desa yang juga jalur utama menuju pos terakhir jalur pendakian Gunung Slamet dari Purbalingga.

Lurah tanpa bengkok

Awal 2010, pemerintahan Kabupaten Purbalingga menetapkan Desa Serang sebagai desa wisata pertama di daerah yang hingga pertengahan 2000-an menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah yang paling banyak "memasok" pembantu rumah tangga ke sejumlah daerah. Namun, perkembangan desa wisata Serang itu tidak berjalan mulus.

"Banyak konflik internal di tubuh Pokdarwis. Pengurusnya kurang profesional," kata Sugito. Hal itu berbuntut pada penurunan pelayanan wisata.

Akhir 2010, Sugito berinisiatif membentuk badan usaha milik desa (BUMDes). Baginya, pengelolaan wisata melalui badan usaha bakal lebih profesional.

Ia mengajak sejumlah warga urunan untuk membeli beberapa wahana permainan. "Saat itu, terkumpul Rp 50 juta. Kami beli alat flying fox dan motor ATV," katanya.

Pada 2013, Sugito berinisiatif membuka kompleks wisata memanfaatkan tanah bengkok seluas 1,3 hektar yang semestinya berhak ia garap sendiri.

"Enggak ada gunanya kalau saya nikmati sendiri (tanah bengkok). Lebih bermanfaat jika dipakai untuk kemakmuran warga," ujarnya.

Namun, tidak mudah bagi Sugito menggerakkan warga ikut membantu pembangunan kawasan yang kemudian dinamakan Rest Area Lembah Asri tersebut.

Sugito tidak menyerah. Dia sabar melakukan pendekatan melalui tokoh-tokoh masyarakat. Setelah ia bisa mengajukan beberapa contoh warga yang sukses dari pariwisata, perlahan pandangan warga lainnya berubah.

Akhirnya, warga secara sukarela mau menyumbang bambu dan alang-alang untuk membuat bangunan gazebo. Mereka juga membangun jalan di dalam kompleks wisata secara swadaya.

Menurut Sugito, saat itu, ada 1.000 orang lebih yang datang bergotong royong.

Sugito menekankan kemandirian dalam membangun desa. Dia menolak dua bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, yakni usaha ekonomi produktif dan simpan pinjam perempuan. Baginya, urusan utang piutang akan menimbulkan masalah.

Dia tidak ingin terjadi kasus kemacetan pelunasan simpanan yang bisa berdampak buruk pada rasa kebersamaan dan sikap gotong royong. Sikap Sugito didukung warga.

Hidupkan tradisi

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved