Bagi-bagi Air ke Kampung

Jangankan di kampung-kampung, kita yang tinggal di Kota Kasih ini saja masih sulit mendapatkan air bersih.

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra

POS KUPANG.COM - Meski saat ini musim hujan tengah berlangsung, masih banyak warga yang sulit memasok air bersih. Masih banyak pula warga di kampung-kampung yang saban hari berjalan kaki dengan jarak tempuh beberapa kilometer hanya untuk mencari setetes air.

Kalaupun ada sumber mata air, masih jauh dari kategori higienis. Antara manusia dan binatang sama-sama merebut sumber air yang sama. Tapi memang tak ada pilihan lain.

Jangankan di kampung-kampung, kita yang tinggal di Kota Kasih ini saja masih sulit mendapatkan air bersih. Air dari PDAM Kabupaten Kupang atau PDAM Kota Kupang belum "menjamah" semua lapisan masyarakat.

Ketika PDAM belum dapat menghapus "dahaga" warga kota, maka bisnis air mobil tangki menjadi pilihan yang tak bisa ditawar-tawar. Di sinilah hukum pesar berlaku.

Kita sedikit melihat gebrakan Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran, MPH, yang memenuhi janjinya dengan mendatangkan air bersih bagi masyarakatnya. Pemkab mengalokasikan anggaran bersama DPRD untuk mengadakan enam tangki air yang akan dibagikan kepada masyarakat.

Mobil ini akan didistribusikan ke kecamatan-kecamatan bahkan ke desa-desa. Jumlah ini tentu saja belum dapat memenuhi ekspektasi masyarakat. Yang pasti sudah ada langkah awal. Luar biasa gebrakan ini. Sangat menyentuh hati masyarakat. Saban tahun mereka tak mendapatkan air. Lalu, di masa kepemimpinan Bupati Stef, mereka boleh bangga mendapatkannya.

Ini terkait dengan ketulusan hati. Bagaimana pemimpin itu memahami kebutuhan masyarakatnya. Meski harus kita akui bahwa bupati yang satu ini kini memulai dengan Gerakan Revolusi Pertanian.

Revolusi pertanian adalah program untuk mengolah seluruh lahan pertanian di Malaka agar dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat jangan lapar lagi. Masyarakat harus kenyang. "Kampung tengah" harus aman.

Kini Pemkab sudah mendatangkan sejumlah traktor untuk mengolah lahan pertanian. Gebrakan pembangunan ini semata untuk meletakkan dasar-dasar pembangunan di Malaka sehingga ke depan punya dasar yang kuat.

Ketika periode lima tahun berikutnya, sang pemimpin tak mengalami kendala lagi. Bila perlu meneruskan program yang diletakkan bupati perdana kabupaten itu.

Memang serba susah karena pemerintah sendiri berhadapan dengan kompleksitas pembangunan dan masalah yang dihadapi. Biaya yang sangat terbatas menjadi kendala utama.
Namun, langkah yang diambil mantan Kadis Kesehatan NTT ini perlu menjadi refleksi mendalam bagi semua pihak. Mungkin saja pemkab di sana "menabrak tembok" hanya untuk menyejahterakan masyarakatnya. Tak ada pilihan lain.
Kita berharap Bupati Malaka ini dapat membangun dan mengembangkan Malaka menjadi kabupaten contoh, terutama aspek pertanian.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved