Suporter Persebaya 1927 Tewas karena Minum Miras Oplosan
Saat pamit akan berangkat, Bryan sempat meminta dibelikan pakaian dan sepeda motor apabila ia sudah pulang dari Bandung.
POS KUPANG.COM, SIDOARJO --Mata Nur Khalis berkaca-kaca ketika menyambut para tamu yang datang melayat ke rumahnya di kawasan Waru, Minggu (8/1/2017).
Anaknya, Bryan, suporter fanatik Persebaya 1927 (bonek) area Bonek Waru (BW), tewas setelah meminum miras oplosan di Subang, Jabar, Sabtu (7/1/2017).
Di teras rumah kontrakannya, para pelayat bertakziah sekaligus menunggu informasi terkait kedatangan jenazah anak sulungnya tersebut.
"Masih menunggu kabar dari kawan-kawannya. Tiap pindah kota dikabari," kata Khalis.
Khalis yang memakai peci hitam tersebut mengaku tak memiliki firasat khusus akan kematian putranya ini.
Namun saat pamit akan berangkat, Bryan sempat meminta dibelikan pakaian dan sepeda motor apabila ia sudah pulang dari Bandung.
Khalis sendiri menyanggupi permintaan itu, sembari berpesan untuk berhati-hati saat perjalanan.
"Setelah saya sanggupi, anak saya berangkat dengan senyum bahagia. Saya tidak tahu itu firasat atau tidak," sambungnya.
Namun, Sabtu sore, Khalis mendapat kabar duka, anaknya meninggal dunia. Saat itu, ia sempat tak percaya. Setelah melihat berita dan kiriman foto dari rekan seperjalanannya, akhirnya Khalis percaya kebenaran kabar tersebut.
Khalis langsung mencoba menggali informasi tentang peristiwa tersebut. Hasil yang didapat, ayah empat anak ini mengetahui bahwa Bryan tewas setelah meminum miras oplosan yang disuguhkan suporter klub Persib Bandung (Viking) area Subang.
"Namun, pada peristiwa itu ada kejanggalan yang membuat saya bertanya-tanya," sambungnya.
Khalis menerangkan saat kejadian berlangsung, antara Bonek Waru dengan Viking Subang minum bersama-sama. Namun anehnya, yang keracunan miras tersebut semuanya merupakan anggota Bonek Waru.
Khalis berharap, petugas Polres Subang bisa segera menuntaskan kasus ini.
"Agar kejanggalan saya bisa terjawab," ujarnya.
Paman korban, Edo Sutrisno, juga merasakan kejanggalan tersebut. Edo menyatakan pihak keluarga ikhlas dengan kematian Bryan, namun penyidikan kasus ini harus tuntas.
"Supaya jelas kasusnya," tandas Edo.
Perwakilan Bonek Waru, Ivan Sugiarto, menambahkan Bryan berangkat bersama 24 rekan lain sesama anggota Bonek Waru.
Para Bonek ini berangkat ke Bandung untuk menuntut kejelasan Bajul Ijo agar bisa berkompetisi di liga profesional.
"Berangkat ke sana dengan cara 'estafet', yaitu menumpang dari satu truk ke truk lainnya," imbuh Ivan.
Ivan mengungkapkan Desa Kedungrejo ini merupakan basis BW. Bahkan, beberapa warganya menjadi pesepakbola profesional, seperti Miftahul Huda (eks Arema Malang dan Persebaya).
"Desa kami jadi kampung sepakbola sejak dulu. Jadi tempat sparing pemain-pemain profesional. Bahkan Bryan pun seorang pemain tengah yang cukup piawai," ujar Ivan yang sempat menjalani pelatihan bersama Mitra Kukar ini.
Sempat kritis
Mahfud (46), orangtua korban lainnya, Mustakhim Najib (21), sempat kebingungan terhadap kabar simpang siur mengenai putranya.
Bahkan hingga saat didatangi awak media di kediamannya di Desa Wedoro, Waru, Mahfud masih bertanya-tanya mengenai kebenaran kabar putranya meninggal.
"Sebab saya dikirimi foto kalau anak saya masih dirawat. Pakai masker oksigen, tapi katanya kritis. Namun, dari Polsek Waru mengatakan meninggal. Saya sendiri pasrah," ujarnya.
Sampai berita ini ditulis, rencananya jenazah bonek Waru yang meninggal diotopsi terlebih dahulu di RSUD Sidoarjo untuk memastikan identitas sebenarnya.
Diperkirakan, jenazah datang pukul 22.00 WIB dan diserahterimakan kepada Wakapolresta Sidoarjo, AKBP Indra Mardiana, hingga akhirnya diserahkan kepada keluarga mendiang.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bryan_20170109_172419.jpg)