Puskesmas Rawat Inap di Kabupaten Kupang Tanpa Dokter
Ada 14 puskesmas rawat inap dari total 26 puskesmas di Kabupaten Kupang. Namun sebagian besar puskesmas rawat inap itu tanpa dokter umum dan dokter gi
Penulis: Julius Akoit | Editor: Alfred Dama
Laporan Wartawan Pos Kupang, Julianus Akoit
POS KUPANG.COM, OELAMASI -- Ada 14 puskesmas rawat inap dari total 26 puskesmas di Kabupaten Kupang. Namun sebagian besar puskesmas rawat inap itu tanpa dokter umum dan dokter gigi.
"Hal ini bertentangan dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 75 Tahun 2014 yang mensyaratkan di Puskesmas Rawat Inap harus dilayani oleh satu dokter umum dan satu dokter gigi," tulis Fraksi Partai Nasdem dalam pemandangan umum fraksinya. Dokumen pemandangan umum fraksi ini diperoleh Pos Kupang Jumat (2/12/2016).
Kondisi ini, tulis Fraksi Partai Nasdem, mengindikasikan bahwa pembangunan pelayanan kesehatan di masyarakat terutama di pelosok-pelosok desa terpencil masih jauh dari harapan.
"Kami minta agar pemerintah segera mencari solusi untuk mengatasi masalah ini," pinta Fraksi Partai Nasdem. Fraksi ini beranggotakan Dra. Sofia Malelak de Haan (ketua), Benediktus Humau, SE (sekretaris), ditambah dua anggota lainnya, Ferdinandus Lafu Daos, S.Fil dan Piter Yulius Takoy.
Dalam bagian lain pemandangannya, Fraksi Nasdem juga mendukung pemerintah yang telah menetapkan empat puskesmas sebagai BLUD, yaitu Puskesmas Tarus, Puskesmas Oekabiti, Puskesmas Amarasi, Puskesmas Lelogama dan Puskesmas Naikliu
Sementara Fraksi Partai Gerindra
mempersoalkan mobil ambulans di puskesmas-puskesmas yang digunakan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk melayani pasien.
"Misalnya di Puskesmas Huebunif. Ada ibu hamil yang hendak melahirkan dan harus rujuk ke RSUD Naibonat. Namun ternyata mobil ambulans tidak ada di puskesmas tetapi dipakai untuk kepentingan pribadi. Akibatnya ibu itu terpaksa melahirkan dan anaknya meninggal dunia," tulis Fraksi Gerindra.
Ketua Forum Kuan Naek Pah Meto, Metu Oematan, yang dimintai komentarnya terpisah, Senin pagi, mengatakan kinerja Kadis Kesehatan Kabupaten Kupang, dr. Robert AJ Amaheka, patut dipertanyakan.
"Selalu saja ada kasus di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang. Dan pernah Dewan usulkan agar kadisnya dicopot karena menyumbang silpa terbesar di Kabupaten Kupang dibandingkan SKPD lainnya. Dapat alokasi anggaran terbesar namun penyerapan anggaran paling sedikit. Yang jadi korban masyarakatt," kritik Oematan.
Ia mengaku heran, urus mobil puskesmas saja tidak becus. Sebab banyak kepala puskesmas pakai mobil ambulans untuk pergi ke hutan dan kebun untuk angkut kayu bakar dan daun kayu untuk ternak sapi dan kambing. Bukan dipakai untuk angkut pasien rujukan.
"Percuma juga punya puskesmas rawat inap kalau tidak punya dokter. Yang layani justru bidan dan perawat sukarela yang baru saja tamat dari sekolah. Mau jadi apa nyawa pasien di tangan bidan dan perawat sukarela?," kritik Oematan lagi.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dokter-protes_20160922_120701.jpg)