Dari Seminar HIV/AIDS Di Lewoleba, Masyarakat Sudah Bisa Menerima Kami

Hal itu terungkap dalam seminar memperingati Hari AIDS Tingkat Kabupaten Lembata di Aula Kantor Bupati Lembata, Kamis (1/12/2016).

Dari Seminar HIV/AIDS Di Lewoleba, Masyarakat Sudah Bisa Menerima Kami
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Dari kiri ke kanan, dokter Geryil Huar Noning, Willem Leuweheq dan Yustina, orang dengan HIV/AIDS dalam Seminar HIV/AIDS di Lewoleba, Kamis (1/12/2016). 

Saat membangun bahtera rumah tangga suaminya mendadak jatuh sakit. Awalnya dia mengira sang uami menderita penyakit biasa.

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Butuh proses penyadaran yang cukup lama untuk menjauhkan masyarakat dari sikap diskriminatif terhadap orang dengan HIV/AIDS alias Odha.

Hal itu terungkap dalam seminar memperingati Hari AIDS Tingkat Kabupaten Lembata di Aula Kantor Bupati Lembata, Kamis (1/12/2016).

Seminar diikuti lebih dari 100 anak sekolah tingkat SLTA se-Kota Lewoleba.

Seminar menampilkan tiga narasumber yakni dokter Geryil Huar Noning, kepala Bidang (Kabid) Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Willem Leuweheq (Kepala Bagian Kesra Setda Lembata) dan Yustina, orang dengan HIV/AIDS alias Odha.

Yustina menuturkan pengalaman pahitnya hingga mengidap HIV/AIDS. Suatu hari di tahun 1993, ia berangkat ke Makassar, Sulawesi Selatan untuk mencari kerja di sana. Di Makassar, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) pada satu keluarga.

Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1997, ia menikah. Dari pernikahan itu Tuhan mengaruniai dua orang anak, yakni seorang perempuan dan seorang laki-laki. Saat giat membangun bahtera rumah tangga, suaminya mendadak jatuh sakit.

Awalnya dia mengira sang suami menderita penyakit biasa. Tapi setelah berobat rutin ke rumah sakit dan dokter, barulah diketahui suaminya mengidap HIV/AIDS.

"Awalnya saya kaget mendengar kabar itu. Suami saya menderita HIV/AIDS. Setelah saya periksa di dokter, saya juga dinyatakan positif. Saya sudah tertular dan sekarang saya hidup dengan penyakit ini," tuturnya.

Sejak mengetahui hasil diagnosa itu, lanjut Yustina, ia bersama suami dan anak-anak memutuskan kembali ke Lembata tahun 2004. Selama di Lembata, mereka rutin menjalani pemeriksaan dan pengobatan di RSUD Lewoleba hingga akhirnya maut memisahkan dirinya dan suami.

Ketika suaminya meninggal dunia akibat HIV/AIDS, katanya, ia bersama anak-anak, dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Tak hanya itu, saat makan dan minum pun, piring, sendok dan gelas, sudah dipisahkan semuanya.

"Awalnya kami diperlakukan masyarakat seperti itu. Tapi saya tabah dengan terus melakukan pemeriksaan secara rutin. Dari pemeriksaan itu, saya sudah positif tapi dua anak saya dinyatakan negatif. Artinya mereka tidak menderita penyakit ini," tuturnya.

Saat ini, lanjutnya ia bersama anak-anak menjalani hidup seperti biasa. Ia rutin mengonsumsi obat seumur hidup, sedangkan anak-anaknya segar bugar, sehat walafiat seperti anak-anak lainnya. "Sekarang masyarakat sudah bisa menerima kami seperti biasa," tuturnya. (frans krowin)

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved