DIPLOMASI LAPANGAN HIJAU ALA MAS GIBOL

Siap Gelar Timor Island Cup

Ada keyakinan bahwa dari 23 kabupaten/kota di NTT, akan ada pemain bahkan klub yang berkiprah di event yang tinggi. Jalan sudah diretas.

Penulis: Sipri Seko | Editor: Sipri Seko
ist
Mas Gibol di Desa Penglipuran Bali 

"BIASANYA saya hanya bisa nonton di televisi. Kali ini saya langsung ada di lapangan ini. Saya juga bisa langsung ketemu Indra Sjafri, dan pemain-pemain bola lainnya. Saya juga bisa bercerita bebas dengan Yabes, Alsan dan Lius. Mereka adalah orang-orang luar biasa. Dan moment ini sungguh luar biasa."

Itu kata Yoca Yohanes, satu-satunya anggota Mas Gibol NTT yang ikut dalam Mas Gibol NTT Goes to Bali. Ma Yoca, demikian anak-anak Mas Gibol biasa menyebutnya, terkagum-kagum dengan Stadion I Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar, Bali. "Luar biasa. Dan, kita Mas Gibol diberi kesempatan untuk bermain di sini," ujarnya.

Moment ini tak bisa dilewatkan begitu saja. Charlos Edy Dharma misalnya. Eks pemain Persab Belu ini tak bisa bermain karena cedera saat pemanasan. Namun itu bukan persoalan. "Intinya adalah saya sudah foto di sini. Mainnya tidak penting, tapi foto dan bisa bersama-sama Mas Gibol dan orang-orang bola level nasional, itu sudah sangat luar biasa. Ini moment yang langka dan mungkin tidak terulang lagi," katanya.

Bermain bola di Stadion I Wayan Dipta, pukul 16.30 Wita, ternyata menjadi cita-cita semua anggota Mas Gibol. Saling canda bersama tim ofisial Bali United yang dipimpin Indra Sjafri, membuat suasana terasa cair.

Sebelumnya anggota Mas Gibol, David Fulbertus, Sipri Seko, Abdul Muis, Melkisedek Lado dan Dwi Alfarist, sudah berdiskusi panjang dengan Indra Sjafri dan stafnya, Richy.

"Apa gunanya kita menggelar event kalau tidak ada pembinaan. Pembinaan harus dimulai dari usia dini. Jumlah penduduk Indonesia lebih dari 250 juta jiwa. Mana mungkin kita tidak bisa mendapatkan 20 pemain bagus untuk membela Indonesia. Ini yang harus dipikirkan pemerintah. Caranya adalah dengan memperbanyak pelatih. Cari koki sebanyak mungkin untuk melatih anak-anak kita di seluruh Indonesia. Setelah itu, kita gelar turnamen untuk menjaring mereka," kata Indra Sjafri.

Diskusi panjang lebar tentang pembinaan sepakbola yang benar terus berlanjut di lapangan. Tak hanya itu, anggota PWI Bali yang dikoordinir wartawan Bola, Yan Daulima, juga siap mendukung pembinaan sepakbola di NTT.

"Kami bantu cari sponsor. Kami bantu dekati klub-klub yang ada, untuk merekrut pemain asal NTT. Kita memang mesti saling mendukung," ujar wartawan Bola, kelahiran Ende ini.

Diplomasi lapangan hijau berlanjut kala Mas Gibol NTT dijamu Guntur FC Legend dalam laga di Stadion I Ngurah Rai, Denpasar. Kalah 4-6 bukan ukuran. Tapi dari pertandingan ini, Piter Fomeni dan Chely Nganggus yang pernah bermain di klub ini mendapat banyak masukkan tentang bagaimana klub bisa bertahan, bisa membiaya dirinya dan mendapatkan sponsor.

Diskusi panjang di lapangan hijau menghasilkan sebuah konsep untuk menggelar turnamen usia 18 tahun ke bawah. Untuk kali ini, ujicoba dilakukan di Daratan Timor. Nama turnamennya Timor Island Cup. Kalau event ini sukses, akan digelar lagi Flores Island Cup, Sumba Island Cup dan lainnya. Sistemnya adalah liga dengan pertandingan home away.

"Setelah ini kita harus segera sosialisasikan. Sudah ada sponsor yang siap mendukung event ini. Klub-klub kabupaten-kabupaten di Daratan Timor, segera kita undang untuk bahas regulasinya. Minimal ada delapan klub, event ini sudah bisa jalan," kata Pembina Mas Gibol, Fary Francis.

Lalu apa tujuan event ini? Menyetor pemain ke PSSI. Mempersiapkan pemain muda, agar suatu saat nanti bisa menjadi tulang punggung PSSI NTT di berbagai event. Caranya adalah memaksimalkan pembinaan di klub, sekolah sepakbola dan akademi.

Disepakati juga akan digelar pelatihan pelatih untuk menambah jumlah pelatih di NTT yang sebarannya belum merata.

"Rencanakan waktunya kapan, saya siap turun ke NTT. NTT sudah sangat saya kenal, sehingga saya siap membantu. Saya punya lisensi sebagai instruktur pelatih, jadi kalau memang dibutuhkan, saya siap ke NTT," kata Indra Sjafri, penyusun buku Grassroot Sepakbola yang saat ini dipakai oleh PSSI.

Meraih prestasi memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Mas Gibol NTT yang beranggotakan mantan pemain bola, pelatih, pengusaha, politisi, aparatur negara, wiraswasta dan lainnya, punya cara sendiri untuk mendukung pembinaan sepakbola di NTT.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved