Kamis, 16 April 2026

Rumah Budaya Sumba Menunjang Promosi dan Pemasaran Pariwisata NTT

Melestarikan budaya Sumba agar tak dilupakan oleh warganya sendiri, terutama kalangan muda.

Penulis: Gerardus Manyela | Editor: Gerardus Manyela
RUMAH BUDAYA SUMBA 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Gerardus Manyell

ANDA ingin mengetahui dan menikmati berbagai panorama alam dan budaya Sumba? Datanglah ke Rumah Budaya Sumba! Sebelum menikmati langsung keindahan alam Tana Humba, Anda bisa menikmati berbagai keindahan dalam foto-foto karya Pater Robert Ramone,CSsR.

Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba (Rumah Budaya Sumba) lahir dari keterlibatan Pater Robert dalam dunia fotografer . Selama 20 tahun berkeliling Sumba untuk memotret pelbagai macam peristiwa budaya, Pater Robert mencatat satu hal yang sangat kasat mata, yakni rumah-rumah adat yang jadi kebanggaan orang Sumba dari tahun ke tahun mengalami penurunan jumlah yang sangat singinifikan.

Ada yang membangun kembali rumah adat tapi jumlahnya tak seberapa banyak dan itu pun sudah berganti atap dari alang-alang menjadi seng. Kebanyakan warga tak sanggup membangun kembali rumah adat, karena pelbagai alasan. Salah satu alasan utama adalah keadaan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Bagi orang Sumba membangun sebuah rumah adat tidak hanya fisiknya tapi ritual pembangunannya yang kadang kala jauh lebih mahal dibandingkan bangunan fisiknya.

Tahun 2010, Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba didirikan dengan tujuan melestarikan budaya Sumba agar tak dilupakan oleh warganya sendiri, terutama kalangan muda. Bangunan fisik lembaga ini terdiri dari dua gedung kembar berdiri berhadap-hadapan, gedung pertama sebagai museum yang mengumpulkan kurang lebih 500 artifak seluruh Sumba dan bangunan kedua adalah kantor. Di tengah-tengah kedua bangunan adalah pelataran berupa panggung terbuka untuk atraksi budaya. Seluruh biaya pembangunan dibantu oleh Yayasan Tirto Utomo Jakarta. Tanggal 22 Oktober 2011 lembaga ini diresmikan oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

"Kami bercita-cita, lewat lembaga ini aktivitas-aktivitas budaya dapat dipayungi dan dapat menunjang promosi serta pemasaran Pariwisata Sumba khususnya dan NTT umumnya. Pada bagian ini kami sangat berharap agar glamournya dunia pariwisata tidak hanya dinikmati oleh mereka yang bermodal besar tapi dapat dirasakan oleh masyarakat setempat," tulis Pater Robert dalam email yang diterima Pos Kupang, Sabtu (22/10/2016).

Tentu saja pada awalnya banyak kalangan, baik pemerintah maupun swasta atau perorangan bersifat skeptis dengan ide pembangunan lembaga ini. Tak kurang yang berkata untuk apa dan mengapa budaya harus dilestarikan? Bukankah dari dulu budaya hidup tanpa adanya lembaga yang campur tangan melestarikannya? Bahkan seorang pejabat pemerintah setempat menganjurkan, "lebih baik membangun hotel dan penginapan daripada bangun lembaga studi budaya yang tak jelas prospeknya atau untungnya". Sikap skeptis dari beberapa orang ini malah semakin memotivasi Pater Robert untuk terus bersemangat mewujdkan cita-cita pelestarian budaya.

"Kami ingin meyakinkan semua pihak bahwa lembaga yang kami bangun sangat diperlukan dan ada manfaatnya bagi usaha pelestarian budaya Sumba. Juga sejak awal kami meyakinkan bahwa lembaga kami bukan lembaga tandingan pemerintah seperti dinas pariwisata. Kami hadir sebagai mitra yang turut menunjang kemajuan pariwisata Sumba. Andaikan lembaga kami menjadi tandingan pastilah lembaga kami kalah jauh, karena yang mempunyai kebijakan (regulasi) dan tentu saja uang adalah pemerintah. Kami swasta 100 % hanya bermodalkan niat baik yang sedikit nekad. Untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan maintanance kami berjuang sendiri," demikian Pater Robert.

Pater Robert ingin memberi sedikit gambaran bagaimana lembaga ini melakukan aktivitasnya selama kurang lebih lima tahun, sejak peresmian tahun 2011. Atau dengan kata lain apa saja yang telah dilakukan lembaga ini khususnya dalam menunjang upaya promosi dan pemasaran pariwisata di Sumba khususnya dan NTT pada umumnya.

Rumah Budaya telah memayungi/menjembatani aktivitas-aktivitas budaya (usaha/semangat pelestarian).
Pembagunan kembali rumah-rumah adat. Rumah Budaya Sumba berperan sebagai penghubung(jembatan) baik pihak swasta maupun pemerintah dengan masyarakat atau kampung adat yang ingin membangun kembali rumah-rumah adatnya. Mengapa harus rumah adat yamg menjadi prioritas utama?

Bagi orang Sumba, mempunyai arti yang sangat penting tidak saja sebagai kebanggaan tetapi juga merupakan tempat berkumpul bagi semua warga suku untuk kepentingan-kepentingan tertentu seperti, pembicaraan berkaitan dengan adat-istiadat mereka (Pasola, penguburan orang mati, pesta adat/suku, dll). Rumah adat sekaligus menjadi tempat pewarisan nilai-nilai sosial budaya dan kekerabatan kepada generasi muda. Maka rumah adat sesungguhnya menjadi jati diri bagi orang Sumba.

Itulah sebabnya budaya Sumba adalah budaya yang Berbasis Rumah, segala sesuatu berkaitan dengan kesepakatan hidup bersama atau bahkan urusan apa saja selalu dilangsungkan dan diselesaikan di rumah.

Pater Robert tak menyangka apa yang dilakukan mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat. Setiap peresmian rumah adat selain dihadiri para donatur juga banyak tamu, khususnya dari Jakarta dan media massa (koran, Radio dan Televisi) meliput peristiwa budaya ini dan mempublikasikannya secara luas lewat media mereka masing-masing. Ini benar-benar sebuah promosi gratis untuk Sumba tanpa dibayar sedikit pun dan tentu saja membawa dampak positif , baik bagi orang Sumba maupun bagi orang dari luar Sumba.

Bagi orang Sumba, semakin mengapresiasi dan termotivasi untuk berperan melestarikan budayanya sendiri dan bagi orang luar Sumba tertarik untuk datang dan menikmati destinasi wisata budaya yang satu ini. Hal ini tentu saja menyentuh aspek promosi pariwisata Sumba khususnya dan NTT umumnya.

Jika Anda ingin mengunjungi Rumah Budaya Sumba? Datang saja ke Kalembu Nga'abangga Jalan Rumah Budaya 212 Tambolaka-Sumba Barat Daya ,NTT. Dari Denpasar menuju ke Tambolaka, Anda hanya membutuhkan waktu satu jam dengan pesawat Garuda Indonesia Air Lines atau Wing Air dan dari Bandara Tambolaka ke Rumah Budaya Sumba, Anda hanya membutuhkan waktu 10 menit. Ke dan dari Waingapu jaraknya 170 KM ditempuh selama 4 jam dan ke Waikabubak 42 KM dengan waktu ditempuh 1 jam.

Di Rumah Budaya Sumba Anda mendapatkan fasilitas, enam bungalow yang dapat menampung 30 tamu. Juga di Waikelo ada tiga bungalow bisa menampung 20 tamu. Dari Bandara Tambolaka ke bungalow di pantai Waikelo, Anda hanya menempuh kurang dari 10 menit. Datanglah dan menikmati destinasi wisata alam dan budaya di Sumba, Rumah Budaya Sumba siap melayani Anda.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved