Veryanto Sitohang Mengubah Oles Pakpak Jadi Gaun-gaun Etnik nan Unik
Kebiasaan membeli kerajinan tangan, cenderamata dan produk-produk unik tiap daerah di Indonesia yang dikunjungi
POS KUPANG.COM, MEDAN -- Kebiasaan membeli kerajinan tangan, cenderamata dan produk-produk unik tiap daerah di Indonesia yang dikunjungi untuk dijadikan oleh-oleh sudah dilakukan Veryanto Sitohang jauh hari, sebelum dia akhirnya menceburkan diri ke dalam dunia aktivis.
Apalagi kalau barang-barang tersebut adalah hasil kreasi kawan-kawan sesama gerakan, tujuannya untuk membantu perjuangan mereka.
Menurutnya, pernak-pernik yang dibeli tidak harus mahal, mulai dari selendang harga Rp 15.000-an. Ini sebagai bentuk dukungan berputarnya roda ekonomi kerakyatan.
Kepada kawan-kawannya pun selalu dipesankan kebiasaan ini. Tinggalkanlah uang di mana pun kalian singgah, belanjalah di daerah itu agar yang menjual senang yang diberi pun bahagia.
"Ini simbol persaudaraan dan dukungan sesama aktivis," kata Very, begitu dia biasa dipanggil, saat ditemui di rumahnya yang nyaman di Jalan 45, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara pekan lalu.
Sebagian buah tangannya, Very mengumpulkan dan menjadikan pajangan barang-barang tersebut di hampir tiap dinding rumahnya. Tenun-tenun ikat terutama ulos bergantung apik di ruang tamu bersanding dengan lukisan-lukisan dan beberapa patung kayu yang anggun.
Rumahnya lebih mirip galeri seni atau museum kain. Ada rak dari bambu yang isinya aneka kain dari seluruh Indonesia. Dia bilang, ada yang dibeli sendiri atau hadiah dari teman-teman yang tahu kalau laki-laki kelahiran Sidikalang 38 tahun lalu ini mengoleksinya.
"Ada yang untuk koleksi, ada yang untuk dijual. Kain troso Jepara kujual. Ini pun kain dari Timor. Kalau ada yang mau, kulepas juga. Cuma ini kan mahal, harganya sejutaan. Yang dijual itu yang banyak dan mudah kujangkau. Kayak ini, ulos-ulos ini ada semua di sini, ini dijual," ucapnya sambil membentangkan satu per satu ulos-ulos yang tadinya tersusun rapi dalam lipatan.
Lambat laun usahanya berkembang. Di hari-hari tertentu rumahnya ramai dikunjungi orang-orang Sidikalang untuk membeli kain-kain etniknya. "Kalau sekarang, di Sidikalang ini cuma aku satu-satunya yang bikin kayak gini," katanya sambil menunjukkan kain sofa yang kududuki adalah hasil reproduksi ulangnya.
Ternyata laki-laki yang masih lajang ini adalah seorang seniman yang pelan-pelan baru membuka koleksinya ke publik. Oles Pakpak yang didominasi warna hitam dipadupadankan dengan ulos (Toba) atau uis (Karo).
Kain-kain tenun warna-warni yang cantik menginspirasinya untuk menjadikan oles Pakpak tidak hanya sekadar selendang atau kain yang dikenakan saat pesta atau upacara kematian pada adat Pakpak, atau Batak umumnya.
Tangannya mulai menari-nari mendesain gaun, kemeja, jas, dress, blouse, baju anak, tas, sandal, aneka pernak-pernik etnik, dan lainnya.
"Bangga aku melihat produk-produk daerah, terus kepikiran kayak mana supaya Dairi punya produk etnik sendiri. Pasti senang kalau Dairi semakin dikenal punya industri kreatif berbasis etnik," ujarnya sambil tertawa.
Selama ini kota tempat tinggalnya yang berhawa sejuk ini hanya dikenal sebagai penghasil kopi dan durian. Bakatnya terus berkembang, baju-baju rancangannya makin dikenal, dia mulai berpikir kalau rumahnya terlalu sempit untuk memajang semua barang-barang hasil produksi.
Pada 2 September 2014 lahirlah Sopo Mode Etnik di Jalan 45 Nomor 86 dan di Jalan Simalungun Nomor 4 Sidikalang. Tagline-nya "Bringing Indonesian Product to You".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/veryanto-sitohang_20161013_064600.jpg)