16 Anak Diaera Gara-Gara Makan Tambaring Campur Mangga Muda
Gara-gara mengkonsumsi tambaring (asam Jawa, Red) dicampur mangga muda, bumbu penyedap rasa dan air mentah, 16 anak di Oepoli, Amfoang Timur, Kabupate
Penulis: Julius Akoit | Editor: Alfred Dama
Laporan Wartawan Pos Kupang, Julianus Akoit
POS KUPANG.COM, OELAMASI - Gara-gara mengkonsumsi tambaring (asam Jawa, Red) dicampur mangga muda, bumbu penyedap rasa dan air mentah, 16 anak di Oepoli, Amfoang Timur, Kabupaten Kupang mengalami diare atau muntah berak (muntaber) lalu dirawat di Puskesmas Oepoli, sejak Rabu (5/10/2016).
"Sisa 8 anak dan 2 orang dewasa menderita diare karena kasus rutin akibat perubahan iklim. Jadi bukan karena adanya kejadian luar biasa," bantah Kepala Puskesmas Oepoli John Frans Takaep, saat dihubungi di Oelamasi, Selasa (11/10/2016) pagi.
Ia mengakui adanya kendala komunikasi sehingga informasi kasus diare di Oepoli yang diperoleh masyarakat dan media massa tidak akurat.
"Pak bayangkan, untuk menelpon saja, kami harus jalan kaki ke lokasi yang punya jaringan untuk menangkap sinyal telepon genggam. Karena itu, saya hari ini tiba di Oelamasi untuk memberikan laporan resmi yang akurat kepada Kadis Kesehatan Kabupaten Kupang," jelas Takaeb.
Tentang penyebabnya, papar Takaeb, anak-anak membuat rujak versi Oepoli, yakni tambaring (asam jawa, Red) direndam dengan air mentah, dicampur masako (bumbu penyedap rasa) dan potongan mangga muda. Lalu mereka beramai-ramai makan sambil bersenda gurau di bawah pohon.
"Pak bisa bayangkan, air mentah tanpa dimasak tentu mengandung bakteri E-coli. Dicampur asam dan bumbu Masako dan mangga muda, tentu sangat berbahaya bagi pencernaan. Akibatnya anak-anak muntah-muntah dan mencret. Mereka dilarikan ke Puskesmas. Jumlahnya cuma 16 orang. Sisanya karena kasus rutin," jelas Takaeb.
Kasus ini, lanjutnya, kemudian mengundang reaksi berlebihan dan informasi yang disampaikan keluar tidak akurat.
"Tidak ada korban jiwa dan semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing," tandas Takaeb.
Camat Oepoli, Anisetus Kause, yang dihubungi per telepon ke Oepoli, Selasa (11/10/2016) pagi, juga mengungkapkan hal senada.
"Tidak benar informasi itu. Yang benar adalah anak-anak salah makan. Dan mereka sudah dirawat dan kini sudah pulih dan kembali ke rumahnya," kata Kause.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 24 balita di Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, yang berbatasan langsung dengan negara Republic Demokratic Timor Leste (RDTL), dilarikan ke puskesmas setempat karena diserang diare (muntaber).
"Memang benar, serangan diare secara sporadis menyerang sejumlah desa di Amfoang Timur sejak Rabu (5/10/2016) pekan lalu. Meski demikian belum ada korban tewas. Semua bisa dikendalikan," jelas Kadis Kesehatan Kabupaten Kupang, dr. Robert AJ Amaheka, saat ditemui di gedung DPRD Kabupaten Kupang, Senin (10/10/2016) siang.
Ia mengatakan situasi sudah berhasil dikendalikan karena petugas medis di Puskesmas Oepoli bergerak cepat menjemput pasien diare dari rumah ke rumah untuk dirawat di puskesmas.
"Anaknya kakak saya kena muntaber. Tapi sekarang sudah berangsur pulih," kata Ny. Anas, salah satu warga Oepoli yang dihubungi melalui telepon genggam.
Ia mengatakan ada sekitar puluhan anak balita yang mendapat perawatan medis di puskesmas akibat muntaber.
"Kejadiannya mulai Rabu pekan lalu. Awalnya sekitar tujuh anak. Tapi kemudian semakin banyak. Meski demikian, tidak ada korban jiwa," jelasnya.*