Proyek Air Bersih Senilai Rp 1 M Lebih Di Ulupulu Mubazir
Proyek Air Bersih di Desa Ulupulu dan Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro senilai Rp 1 miliar lebih, mubazir. Proyek yang dikerjakan CV Karisma Bajawa
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Alfred Dama
Laporan Wartawan Pos Kupang, Adiana Ahmad
POS KUPANG.COM, MBAY -- Proyek Air Bersih di Desa Ulupulu dan Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro senilai Rp 1 miliar lebih, mubazir. Proyek yang dikerjakan CV Karisma Bajawa tahun 2015 lalu hingga kini tidak bermanfaat untuk masyarakat.
Jaringan air bersih tersebut hanya berfungsi saat uji coba. Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, Videlis Veto mengatakan, jaringan air bersih yang dibangun tahun 2015 itu tidak berfungsi maksimal karena ada persoalan sosial.
Anggota DPRD Nagekeo, Wenslaus Ladi Ligo yang ditemui di Gedung DPRD Nagekeo, Senin (10/10/2016), mengatakan, proyek uang dibangun untuk mengatasi krisis air bersih di dua desa itu ternyata tidak memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
"Masyarakat sampai di dua desa itu sampai hari ini belum menikmati air bersih. Masalah di design teknis, juga survei. Material juga diduga bermasalah. Tidak sesuai dengan material yang dikontrakan.
Material di lapangan dan spek diduga berbeda. Ini informasi kita dapat di lapangan," kata Wenslaus.
Wenslaus meminta design proyek itu harus dibuat ulang sesuai kondisi di lokasi proyek.
"Harus didesign Harus survey ulang, elevasi atau ketinggian dilihat kembali. Juga jalur pipa," demikian Wenslaus.
Dikatakan Wenslaus, persoalan tersebut sudah pernah disampaikan pada forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Muarenbangdes) di Desa Ulupulu dan Musrenbangcam Kecamatan Nangaroro.
PPK Proyek tersebut, Fidelis Veto yang dihubungi melalui telepon genggamnya, Senin sore, menjelaskan, jaringan air bersih yang dibangun tahun 2015 itu tidak berfungsi maksimal karena persoalan sosial.
"Air itu dari Gezu di Boawae. Jaringan pipa melalui Pagomogo. Ada masalah sosial di Pagomogo. Jaringan pipa dirusak sehingga air tidak sampai ke Ulupulu," jelas Fidel.
Fidel mengungkapkan, pihaknya bersama rekanan, CV Karisma Bajawa berusaha untuk perbaiki, namun berulangkali dirusak warga setempat.
"Kita bingung harus pakai cara apa. Sampai sekarang proyek itu belum di-PHO. Pembayaran dilakukan sesuai fisik," kata Fidel.
Sementara Wenslaus mengungkapkan, sempat ada informasi ada negosiasi antara PPK, rekanan pemegang hak ulayat di mata air untuk meningkatkan volume air pada saat uji coba. Setelah uji coba, volume air dikurangi kembali. Namun Fidel membantah informasi itu.
"Tidak ada negosiasi. Kalau tidak ada kebocoran, air pasti sampai di Ulupulu. Saat survey melibatkan masyarakat di Ulupulu dan Ulupulu 1. Tidak masalah," kata Fidel.
Sementara Wenslaus menambahkan, jika design awal bagus, pasti proyek tersebut tidak bermasalah.