Waspada, Schizophrenia!

Dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh penderita skizofrenia pasca perawatan di rumah sakit jiwa.

Editor: Agustinus Sape

Oleh: Vinsen Belawa Making, SKM, M.Kes
Wakil Ketua Stikes CHMK-Sekretaris Eksekutif IAKMI Provinsi NTT

BEBERAPA hari terakhir ini kita dikejutkan dengan berbagai peristiwa yang memilukan. Ada suami putuskan tangan istri, suami bunuh istri, ada Ibu membuang anak, pasien bunuh diri di rumah sakit dan masih banyak peristiwa pilu lainnya. Sadar atau tidak semua peristiwa ini terkait erat dengan kondisi kejiwaan seseorang. Gejala gangguan jiwa yang sering diderita oleh penderita adalah Schizophrenia.

Apa itu Schizophrenia
Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III), definisi skizofrenia dijelaskan sebagai gangguan jiwa yang ditandai dengan distorsi khas dan fundamental dalam pikiran dan persepsi yang disertai dengan adanya afek yang tumpul atau tidak wajar. Schizophrenia secara sederhana merupakan kumpulan kelainan otak yang membuat penderitanya menafsirkan kenyataan secara berbeda. Schizophrenia dapat menimbulkan halusinasi, delusi, dan penyimpangan cara berpikir dan perilaku. Kondisi ini membuat penderitanya secara perlahan kehilangan kemampuan untuk bisa hidup berbaur dengan orang lain dan merawat diri sendiri. Banyak orang menganggap penderita schizophrenia memiliki kepribadian ganda. Kata schizophrenia sendiri memang berarti pemikiran yang terpisah, tapi lebih condong kepada gangguan keseimbangan emosi dan cara berpikir. Schizophrenia adalah kondisi kronis yang memerlukan perawatan seumur hidup.

Gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kategori, yaitu negatif dan positif. Gejala negatif skizofrenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada di dalam diri orang yang normal. Sebagai contoh, 1) keengganan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain sehingga lebih memilih untuk berdiam di rumah. 2) Kehilangan konsentrasi. 3) Pola tidur yang berubah. 4) Kehilangan minat dan motivasi dalam segala aspek hidup, termasuk minat dalam menjalin hubungan. Beberapa hal ini sering terjadi pada remaja dan kadang oleh orang tua dan keluarga hal ini dianggap wajar saja. Perlu diperhatikan apabila terjadi perubahan pola perilaku yang signifikan maka harus segera ditangani.

Gejala positif skizofrenia terdiri dari: 1) Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena halusinasi terasa sangat nyata bagi penderita. Contoh gejala halusinasi yang biasanya dialami oleh penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara. 2) Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau kenyataan yang sebenarnya. Contoh gejala delusi bisa bermacam-macam. Ada penderita yang merasa diawasi, diikuti, atau khawatir disakiti oleh orang lain. Ada juga yang merasa mendapat pesan rahasia dari tayangan televisi. Gejala-gejala delusi semacam ini bisa berdampak kepada perilaku penderita skizofrenia. 3) Pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penderita sulit berkonsentrasi dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga kata-kata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Perilaku penderita skizofrenia juga menjadi tidak terduga dan bahkan di luar normal. Misalnya, mereka menjadi sangat gelisah atau mulai berteriak-teriak dan memaki tanpa alasan.

Sampai saat ini, penyebab schizophrenia masih belum dapat dipastikan. Tapi berbagai penelitian menunjukkan adanya pengaruh kombinasi genetik dan lingkungan. Struktur kimiawi otak pada penderita schizophrenia mengalami gangguan. Pencitraan terhadap struktur otak dan sistem syaraf pusat pada penderita schizophrenia juga menunjukkan perbedaan dengan mereka yang bukan penderita. Schizophrenia yang tidak ditangani dengan seharusnya dapat menyebabkan kondisi berikut: Keinginan atau usaha bunuh diri, perilaku merusak diri, depresi, konsumsi alkohol, obat-obatan terlarang maupun obat yang diresepkan dokter secara berlebihan, kemiskinan dan tuna wisma, konflik keluarga, tidak mampu bekerja atau bersekolah, mengalami masalah kesehatan karena penggunan obat yang berlebihan, menjadi pelaku ataupun korban kejahatan.

Perlu Dukungan Moril
Penyakit ini adalah salah satu masalah kesehatan yang ada di Negara berkembang dan negara maju. Prevalensi skizofrenia di negara sedang berkembang dan negara maju relatif sama, sekitar 20% dari jumlah penduduk dewasa. Oleh karena itu siapa saja bisa terkena skizofrenia, tanpa melihat jenis kelamin, status sosial maupun tingkat pendidikan. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi Orang Dengan Skizofrenia (ODS) di Indonesia mencapai 1,27 permil. Penelitian di Hongkong menemukan bahwa dari 93 pasien skizofrenia masing-masing memiliki potensi kambuh 21%, 33% dan 40% pada tahun pertama, kedua, dan ketiga. Kekambuhan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ketidakpatuhan minum obat, gejala yang umum terhadap pengobatan peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres, ekspresi emosi keluarga yang tinggi, dan dukungan keluarga. Factor lain yang juga menjadi penyebab adalah Keadaan ekonomi. Hasil penelitian Simanjuntak ( Faktor Risiko Terjadinya Relaps pada Pasien Skizofrenia Paranoid. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2008) menyatakan bahwa masalah keuangan bisa mengganggu keteraturan pasien dalam pengobatan saat rawat jalan karena beberapa pasien mungkin tidak mampu untuk membeli obat sehingga pasien mengalami kekambuhan.

Peran keluarga memiliki pengaruh terhadap kekambuhan pasien skizofrenia. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Amelia (2013), bahwa selain faktor usia, jenis kelamin, dan pekerjaan, penyebab subyek mengalami relaps disebabkan faktor keluarga. Faktor tersebut paling dominan sehingga subyek menjadi relaps pasca dirawat di rumah sakit jiwa . Dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh penderita skizofrenia pasca perawatan di rumah sakit jiwa. Jika dukungan sosial dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan teman-teman tidak ia dapatkan, bukan tidak mungkin relaps atau kekambuhan akan terjadi pada penderita skizofrenia.

Gambaran gangguan jiwa ini cukup memberikan gambaran kepada kita bahwa NTT sudah terpapar sejak lama. Buktinya, banyak kasus yang sudah terjadi. Satu hal yang mungkin luput dari pendangan kita bahwa semakin hari makin banyak saja orang-orang dengan ganguan jiwa berat (baca gila) yang berkeliaran di tempat-tempat umum. Namun mirisnya belum ada tempat khusus yang representative menampung dan merawat orang-orang ini.

Saat ini kita wajib mewaspadai schizophrenia. Kembali dalam keluarga kita masing-masing untuk saling berbagi, berinteraksi secara positif. Ciptakan keluarga sebagai surga kecil yang penuh dengan bahagia. Jauhi stress dan berperilaku bersih dan sehat. Ciptakan hubungan sosial yang baik terhadap semua orang. Sebab gangguan jiwa itu terjadi karena adanya tekanan dalam pikiran. Salam Sehat.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved