Minggu, 12 April 2026

Rempeyek dan Cerita di Balik Camilan Kesukaan Tony Abbott

Kriuk kriuk. Renyahnya rempeyek kerap menjadi pelengkap menu makanan utama masyarakat Indonesia

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS.com/Caroline Damanik
Rempeyek kacang, menu pelengkap andalan yang kerap disajikan di Wisma Indonesia, kediaman resmi Duta Besar Indonesia untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema, di Canberra, Australia, saat menjamu tamu negara 

POS KUPANG.COM, CANBERRA -- Kriuk kriuk. Renyahnya rempeyek kerap menjadi pelengkap menu makanan utama masyarakat Indonesia di atas meja makan. Adonan tepung beras dan air yang diberi bumbu itu biasanya dicampur dengan kacang tanah atau ebi lalu digoreng dengan bentuk lonjong dan tipis.

Rasanya yang nikmat dan renyah lalu menjadikan menu ini kerap dibawa oleh Nino Nadjib Riphat, istri dari Duta Besar RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema, ke atas meja makan saat menjamu tamu-tamu negara ketika mereka ditugaskan, mulai dari Norwegia, Vatikan, Belgia, hingga Australia.

Di Australia, Nino kerap menyajikan rempeyek kacang di atas meja makan saat jamuan resmi. Bahkan, para pejabat dan tokoh Negara Kanguru itu kepincut pada rempeyek kacang. Salah satunya adalah mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott.

Nino bercerita, untuk pertama kalinya Abbott berkunjung ke Wisma Indonesia, rumah dinas Dubes RI untuk Australia di Canberra. Abbott masih dalam masa kampanye untuk pemilihan perdana menteri.

"Waktu itu masa-masa pemilihan dan beliau waktu itu bilang, 'Saya dari pagi belum makan'. Waktu itu saya sajikan makanan dan ada rempeyek. Dia lalu makan dan tiba-tiba tanya, 'Ada lagi enggak (rempeyeknya), saya boleh minta lagi enggak? Akhirnya dia habiskan (rempeyek) satu wadah besar," kata Nino ketika ditemui di kediamannya pada awal Juni 2016.

Nino melanjutkan, setiap kali berkunjung ke Wisma Indonesia, Abbott kerap meninggalkan pesan yang sama kepada Nadjib.

"Dia bilang, 'Bilang sama istri kamu, saya ingin peanut cracker yang waktu itu dibuat'. Jadi dia memang suka sekali. Kalau dia datang ke sini, dia pasti cari rempeyek," ungkap Nino sambil tersenyum.

Nino mengatakan, memang dia kerap menyajikan menu kerupuk atau keripik yang berbeda, kadang rempeyek yang disajikan juga bervariasi, dari yang berisi kacang tanah, udang hingga ikan teri. Namun rempeyek kacang dengan campuran daun jeruk yang dirajang paling sering disajikan.

Meski dalam budaya orang asing, kerupuk atau keripik jarang dinikmati bersama makan besar, Nino menilai orang asik menyukainya. Bersama juru masak andalannya, dia lalu mencoba memadukan menu pelengkap itu dengan makanan utama yang disajikan dengan baik agar pas dengan lidah orang asing.

Nino dan juru masak kedutaan juga terus belajar menggoreng rempeyek dengan baik sehingga bentuk serta ketebalannya sedap dipandang.

"Ini seperti sebuah seni. Jadi kita tidak hanya menyajikan kerupuk tetapi bisa menjadi sesuatu yang berarti," ucapnya.

Diplomasi meja makan

Dalam urusan diplomasi, meja makan tidak hanya sekadar tempat untuk menyajikan makanan dan minuman untuk menjamu para tamu. Segala interaksi di meja makan, suka atau tidak suka, bisa sangat menentukan keputusan penting yang memengaruhi kepentingan hidup rakyat dari dua negara.

Di meja makan, kekerasan hati bisa luruh, ketegangan antara dua negara bisa reda. Hidangan bisa jadi alat yang sangat efektif untuk menjembatani jarak batin yang jauh saat konflik terjadi.

Oleh karena itu, Nino tidak pernah main-main dalam menyajikan hidangan, mulai dari menu pembuka hingga penutup sesuai dengan etika jamuan makan internasional.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved