Senin, 13 April 2026

Menteri Yohana Kesulitan Cegah Prostitusi Anak di Dunia Maya

Modus yang dilakukan AR yakni dengan menjual anak-anak tersebut melalui akun Facebook.

Editor: Hyeron Modo


POS KUPANG.COM,JAKARTA-- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise mengaku kesulitan mencegah terjadinya perdagangan anak yang beroperasi lewat media sosial.

Hal itu disampaikan Yohana menanggapi kasus perdagangan anak laki-laki bagi paedofilia yang beroperasi lewat media sosial.

"Sebenarnya memang idealnya kami telusuri operasi perdagangan anak bagi penyuka sesama jenis di dunia maya, problemnya praktek tersebut dilakukan secara terselubung sehingga sulit bagi kami melacaknya," kata Yohana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (31/8/2016).

Yohana mengatakan saat ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) baru sebatas melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya di daerah, terkait modus perdagangan anak melalui media sosial.

Namun, dia mengakui belum sampai pada mengidentifikasi akun yang memang melakukan perdagangan anak.

Sejauh ini sosialisasi yang dilakukan Kementerian PPPA juga memanfaatkan lembaga perpanjangan tangan Kementerian PPPA di daerah, baik yang berasal dari Pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

"Semestinya memang berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mendeteksi, menindak, dan memblokir akun media sosial yang melakukan perdagangan anak, ke depannya akan ke arah sana," lanjut Yohana.

Sebelumnya, Bareskrim Polri menangkap pelaku perdagangan anak di bawah umur berinisial AR (41) di sebuah hotel di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/8/2016). Ia memperdagangkan anak-anak itu untuk penyuka sesama jenis.

AR pernah mendekam di penjara, namun sudah bebas. Modus yang dilakukan AR yakni dengan menjual anak-anak tersebut melalui akun Facebook. AR memampang foto-foto korban tersebut di akunnya dengan tarif yang telah ditentukan.

Yohana pun menyatakan sebagian besar korban perdagangan anak untuk penyuka sesama jenis tergiur karena diiming-imingi jaringan pergaulan di media sosial. Sebabnya, Yohana mengatakan mereka berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi sehingga mereka tak kesulitan secara ekonomi.*

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved