Narasi P Paul Ngganggung SVD
Biasa biasa Saja
Allah menitipkan kepadanya imamat dan kaul-kaul kebiaraan sebagai peta dan metodologi agar selama perjalanan di bumi, ia jangan sampai salah arah
Oleh: Gerard N. Bibang
Mantan Murid, Tinggal di Jakarta
KEKASIH Allah itu telah kembali ke rumahnya. Ia bukan penduduk bumi. Ia penduduk surga. Bumi ini hanyalah perjalanannya. Rumahnya, di sana, indah tiada tara, dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.
Allah menitipkan kepadanya imamat dan kaul-kaul kebiaraan sebagai peta dan metodologi agar selama perjalanan di bumi, ia jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumah iblis yaitu neraka jahanam. Di bawah kebeningan cahaya peta itu, ia sudah 'melihat' Allah dan merasakan kebahagiaan bersama-NYA yang mungkin tak kasatmata bagi mata telanjang.
Maka Pater Paul sejatinya tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Pater Paul memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya dini hari Jumat 26 Agustus lalu di Rumah Sakit Siloam Kupang, karena saya, mungkin engkau dan kita-kita, meletakkan diri semakin jauh dari titik kebahagiaan yang ia sudah lama menikmatinya.
Maka wajarlah, gemuruh isak tangis serta pekikan-pekikan lara berdatangan dari seluruh penjuru Nusa Bunga dan Nusa Cendana: "Kita sangat kehilangan," "SVD ditinggalkan oleh salah seorang putra terbaiknya", Miss u opa dan bapa Pater-ku."
Tidak! Pater Paul tak pernah pergi. Kekasih Allah tak pernah mati. Bisa jadi pekikan-pekikan itu sebenarnya tidak terutama tentang Pater Paul, melainkan lebih terkait dengan kandungan batin saya sendiri. Semua pernyataan itu sangat memancarkan kedalaman cinta, semangat mempertahankan optimisme ke depan, mungkin juga diam-diam terdapat kandungan kecemasan dan kebingungan dari dalam ego saya sendiri karena belum juga melihat ALLAH. Atau mungkin terdapat semacam raungan di kandungan jiwa tentang kapan persisnya giliran itu datang menjemputku untuk kembali ke sana.
Ia kembali tanpa mengagetkan siapa-siapa. Tidak menabrak logika manusia. Usia 78 tahun, penyakit asam urat yang menganiaya tubuh dan jiwanya bertahun-tahun, beberapa kali keluar masuk rumah sakit dan tiada hari tanpa menelan obat, semua ini mengisyaratkan bahwa saat kembali ke rumahnya, bisa terjadi kapan saja. Itulah yang terjadi Jumat lalu. Ia memeluk saudara maut dengan biasa-biasa sesuai dengan frase yang sering ia kumandangkan: Biasa-biasa Saja.
Bab Tiga
Biasa-biasa saja dan jadilah manusia biasa. Ibarat lagu, inilah refrein yang sering ia lantangkan dalam berbagai formulasi melalui dua mata kuliah yang ia ampu: Sosiologi dan Metodologi Penelitian di Bukit Mentari Ledalero, awal hingga medio 80-an.
Saya mengenalnya pertama-tama ketika lectio brevis, semacam kuliah umum singkat di awal tahun ajaran baru tahun '82. Setelah semua mahasiswa STFK Ledalero berkumpul di Aula Hijau, datanglah seorang lelaki paruh baya yang tidak seberapa tingginya, membuka kuliah umum itu dengan kalimat singkat: "Ini bukan lectio brevis tapi lectio brevissima (=kuliah umum tersingkat)." Kami semua tertawa. Benar. Kuliah umum itu berlangsung tidak sampai 30 menit. Ia menjelaskan status STFK yang sudah diakui pemerintah dan beberapa dosen tamu yang akan mengajar pada tahun ajaran baru itu. Belakangan kami diberi tahu bahwa Pater Paul adalah direktur sekolah.
Setelah dua tahun berserius-serius dengan filsafat dan teologi, saya dan teman-teman seangkatan bertemu lagi dengannya di ruang kuliah. Aduh, bagai embun di hari gerah. Kuliah-kuliahnya santai, seperti membawa kami berkelana masuk keluar kampung dari desa ke desa dan -ini penting-membuat kami sadar: Oh ya, kami ini kuliah di dunia. Pada dua tahun sebelumnya, betapa mengkerutnya dahi kami menghafal terminologi filsafat dan teologi berikut nama-nama filsuf dan teolog besar yang membawa kami terbang ke dunia barat dan dunia ide serta membawa kaki kami melayang-layang antara langit dan bumi. Tapi sekarang bersama Pater Paul, kami tersenyum dan lebih banyak tertawa melalui dua cabang ilmu. Freude durch Wissenschaft! Kegembiraan dalam ilmu, inilah harta termahal yang kami dapatkan bersamanya.
Kegembiraan itu dimulai dengan istilah Bab Tiga. Secara kebetulan atau tidak, dua mata kuliah ini hanya sampai pada bab tiga. Karena sibuk menyiapkam ujian dengan membuat makalah dan mempresentasikannya, kami --dan mungkin Pater Paul sendiri --lupa materi kuliah sudah sampai di mana. Ada beberapa bulan setiap kali Pater Paul masuk ruang kuliah dan tanya 'terakhir sampai di mana", jawaban kami serempak: bab tiga! sambil tertawa.
Mengagumkan, ia tampak tidak terusik. Mungkin perspektif kami berbeda dalam melihat soal. Kami mengatakan tidak selesai karena sistematika bahan kuliah masih memperlihatkan ada bab-bab selanjutnya. Sementara bagi Pater Paul, lain. Mungkin ia menganggap selesai itu bisa di bab mana saja. Kebetulan untuk masa kami: bab tiga. Sejak saat itu, diam-diam beberapa dari kami yang tergolong badung sering memanggilnya PBT alias Pater Bab Tiga.
Lebih istimewanya lagi, tak satu pun dari kami yang bertanya kepadanya kapan bab-bab selanjutnya diteruskan. Barulah bertahun-tahun sesudah meninggalkan Ledalero, ketika beberapa teman angkatan bertemu secara kebetulan dan mengenang istilah bab tiga, kami akhirnya berpendapat betapa luar biasa etos ke-guru-an Pater Paul. Memang begitulah seorang guru. Guru sejati adalah yang membuka peluang seluas-luasnya agar murid bergerak melangkah sendiri mengembarai cakrawala-cakrawala kemungkinan ilmu. Tindakan terburuk seorang guru adalah kalau ia memberitahukan sesuatu atau menyodorkan informasi-informasi, yang sebenarnya merupakan hak asasi murid untuk menelusuri dan memperolehnya secara mandiri.
Lantas siapa menyangka kami kerdil dalam ilmunya hanya karena macet di bab tiga? Saya mulai dari sosiologi. Judul bab tiga tertulis: Imajinasi Sosiologis. Yaitu sejumlah perangkat analisis gejala-gejala sosial dengan menggunakan kata kunci: imajinasi. Bahwa imajinasi tidak sama dengan angan manusia yang tertuju kepada perbuatan mengejar bayang-bayang, petuah yang disinonimkan dengan kesia-siaan perbuatan manusia. Bahwa imajinasi sosial adalah rahim bagi perubahan demi perubahan. Ia telah lama mengorganisir kerja sosiologis dan membuat gejala dan fakta sosial menjadi interpretabel (make sense).
Tiba-tiba Frater Frietz angkat tangan: " Pater, ini filsafat sosial atau sosiologi?" (bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-paul-ngganggung-svd_20160831_193930.jpg)