Butet: Ini Olimpiade Terakhir Saya

Liliyana Natsir mengisyaratkan tidak kembali mengayuhkan raketnya pada ajang serupa, yang berlangsung di Tokyo pada 2020.

Editor: Agustinus Sape

POS KUPANG. COM, JAKARTA - Peraih medali emas dalam cabang ganda campuran di Olimpiadde Rio de Janeiro 2016, Liliyana Natsir mengisyaratkan tidak kembali mengayuhkan raketnya pada ajang serupa, yang berlangsung di Tokyo pada 2020. Butet, sapaan akrabnya, menuturkan Olimpiade Rio menjadi kejuaraan resmi tingkat dunia terakhir yang dia ikuti.

"Ini Olimpiade terakhir saya. Jadi saya maksimalkan semuanya," kata Butet di kantor PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (24/8/2016).

Usianya yang akan mencapai angka 35 tahun saat Olimpiade Tokyo terselenggara, menjadi salah satu alasan Butet. Dia merasa tidak akan sanggup bermain secara maksimal dalam usia tersebut.

Selain itu, medali emas Olimpiade yang didambakan Butet telah dia capai. Dia khawatir tidak ada lagi dorongan untuk kembali meraih prestasi serupa karena telah pernah diraih.

Bonus dari PBSI serta Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mencapai Rp 6 miliar juga telah dia pikirkan sebagai bekal usaha. Meski dia belum mau menyebut jenis usaha yang handak digeluti.

Pernyataan Butet akan gantung raket sebelumnya, sempat dilontarkan ibunya, Olly Maramis alias Auw Jin Chen. Bahkan Olly telah mengungkapkan cabang olahraga lain yang hendak sang putri tekuni.

"Dia pernah bilang mau coba olahraga yang lebih ringan seperti golf. Kan tidak bagus buat jantung kalau dia langsung berhenti (berolahraga)," kata Olly saat menyambut anaknya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Selasa (23/8) kemarin.

Harapan agar anaknya segera berumah tangga juga diutarakan Olly. "Untuk anak gadis, dia kan sudah cukup berumur," ujarnya.

Sedangkan, rekan Butet, Tontowi Ahmad turut menanggapi rencana temannya itu. "Masih bisa lah Olimpiade depan," imbuhnya.

Rayuan untuk tetap memukul shuttlecock di Tokyo pada 2020 medatang, diutarakan Butet terus dilancarkan Tontowi. Bahkan dalam perjalanan pulang dari Brasil, Tontowi terus mempertanyakan niat Butet. "Dia nanya melulu di pesawat, 'masih semangat kan ci'. Saya bilang ntar dipikirkan dulu," ujarnya.

Pelatih utama tim bulutangkis Indonesia untuk Olimpiade, Richard Mainaky juga menahan niat Butet. "Saya bilang ke Owi (Tontowi), urusan Butet biar saya yang urus. Saya punya trik tersendiri," katanya.

Lagu Indonesia Raya berkumandang usai final ganda campuran bulu tangkis Olimpiade Rio 2016. Lagu itu bertepatang dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia.

Di laga final, pasangan Owi/Butet--panggilan sehari-hari pasangan ini--menundukkan pasangan Malaysia Chang Peng Soon/Goh Liu Ying. Pasangan Indonesia menang straight set 21-14, 21-12.

"Yang pasti, ini kado terindah dari Tuhan, kado yang saya berikan untuk negara Indonesia yang (hari ini) merayakan kemerdekaan, (kado) untuk masyarakat Indonesia," kata Owi dalam wawancara seusai pengalungan medali, yang disiarkan langsung oleh salah satu televisi swasta nasional.

Kemenangan Owi/Butet sekaligus menyambung kembali tradisi emas bulu tangkis Indonesia di ajang Olimpiade, setelah terputus pada Olimpiade 2012. Tradisi ini sebelumnya bersambung sejak Olimpiade 1992.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved