Menengok Proses Pembelajaran Sekolah Semi Full Day School

Di sekolah kami, sebelum mengajar anak harus tersenyum, tertawa dahulu

Editor: Agustinus Sape
tribunkaltim
PROSES BELAJAR - Beberapa murid SD Fastabiqul Khairat yang memberlakukan semi full day school saat menjalani proses pembelajaran, Rabu (10/8). 

Sebelum Mengajar Anak Diajak Tersenyum

JAUH sebelum Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mewacanakan penambahan jam sekolah atau sistem full day school, sejumlah sekolah swasta di Kalimantan Timur (Kaltim) sudah memberlakukannya. Meskipun tidak sehari penuh siswa di sekolah atau semi full day school seperti yang selama ini dilakukan SD Fastbiqul Khairat, Samarinda.

"TEPUK satu!. Praak. Tepuk dua! Praak-praak. Tepuk tangan! Praak, praak, praak, praak," ujar Suyono, guru kelas 1 SD Fastabiqul Khairat, Samarubda. Ucapannya menginstruksikan tepuk tangan kepada para murid langsung diikuti respons gerakan. Sesekali murid salah menepuk sesuai jumlah instruksi, dan kemudian diikuti tawa murid lainnya.

Rabu (10/8/2016) kemarin, Tribun berkesempatan menengok langsung pembelajaran di salah satu sekolah yang sudah menerapkan semi full day school yang kini ramai dibicarakan setelah muncul wacana Mendikbud yang baru.

"Di sekolah kami, sebelum mengajar anak harus tersenyum, tertawa dahulu. Harus senang. Karena otak manusia itu bisa memahami pelajaran ketika berada di zona alfa. Zona itu tercipta saat anak dalam kondisi rileks, santai," ujarnya.

Penciptaan ice breaker berupa instruksi tepukan tersebut dilakukan untuk mencegah anak memasuki zona beta.

"Kami hindari anak masuk dalam zona beta, seperti mengantuk, bosan, dan lainnya yang membuat pelajaran sulit masuk. Itulah mengapa kami terapkan brain games, siswa kami ajak menyanyi. Lalu setelah mereka fokus ke guru, pelajaran baru diberikan," kata Suyono.

Brain games, nyanyian serta ice breaker itupun tak dilakukan sesekali saja. Tetapi berulang tergantung dari kondisi anak didik saat berada di kelas.

"Saat pelajaran dimulai lagi dan anak mulai bosan kembali, pola yang sama kami lakukan lagi. Guru ajak anak menyanyi, berikan cerita lucu, tebak-tebakan, senam, apapun yang membuat mereka fokus lagi," ujarnya.

Selain itu, hal penting lain yang harus diterapkan dalam pola pembelajaran semi full day school adalah metode belajar yang lebih kepada gerakan serta disisipi permainan.

"Misalnya mengamati benda, interaksi dengan teman, sehingga mereka terasa tidak sedang belajar, padahal itu sebenarnya belajar. Saya pernah ditanya orangtua siswa, kok setiap kali ia bertanya kepada anaknya pelajaran apa di sekolah, anaknya malah menjawab, tak pernah belajar, tetapi hanya bermain, Padahal, jika dicek, materinya semua bisa dijawab anak didik," katanya.

Suyono pun mengiyakan jika diterapkan atau tidaknya full day school tersebut, kembali pada inti masalah, yakni apa yang diberikan kepada anak di sekolah.

"Jadi, bukan pada waktu belajarnya. Intinya, seberapa pun lama, atau jumlah anaknya yang penting bagaimana anak itu merasa nyaman. Ciri-cirinya, misalnya, ketika pulang sekolah, anak didik malah bertanya kepada guru. Pak/ibu, besok kita belajar apalagi? Itu berarti, anak senang di sekolah," ujarnya.

Satu hal lain yang juga sering diterapkan dalam sekolah tersebut adalah penundaan materi ataupun cerita sebelum mencapai klimaks.

"Misalnya saat guru memberikan cerita, kemudian cerita dihentikan sebelum cerita itu habis. Kami stop dan dilanjutkan besok lagi. Si anak akan bertanya, terus lanjutannya bagaimana? Jawab saja dilanjutkan besok lagi. Ini membuat anak akan penasaran dan semangat lagi ke sekolah untuk mencari tahu lanjutan cerita itu," ucapnya. (tribunkaltim)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved