Perburuan Senyap Tim Alfa 29
Di hutan lebat pegunungan wilayah Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dalam senyap Tim Alfa 29 mengikuti je
"Petualangan" Santoso di hutan dimulai pada 2012. Sejak saat itu, ia diburu di hutan pegunungan Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
Pengganti Santoso
Kematian Santoso belum serta-merta mengakhiri riwayat kelompok ini. Muhammad Basri alias Bagong dan Ali Kalora alias Ali Ahmad kemungkinan bisa menggantikan Santoso untuk memimpin pergerakan gerilya kelompok tersebut.
Menurut Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Basri memiliki kemampuan gerilya dan kepemimpinan seperti Santoso.
Karena itu, Santoso menunjuk Basri sebagai orang kedua di kelompok itu setelah kematian Daeng Koro. Sementara itu, Ali Kalora dihormati karena faktor senioritas di antara para anggota kelompok radikal di Poso, Sulawesi Tengah.
Besarnya peran Basri dan Ali Kalora ditunjukkan dengan keikutsertaan istri mereka, Nurmi Usman alis Umi Mujahid (Basri) dan Tini Susanti Kaduka alias Umi Fadel (Ali Kalora), dalam operasi gerilya.
Kebijakan untuk membawa serta istri mulai diberlakukan Santoso bagi para pemimpin kelompok ini sejak pertengahan 2015.
Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengungkapkan, pasokan senjata dari wilayah Filipina bagian selatan dan kemampuan gerilya menjadi penyebab Santoso dan pengikutnya bertahan di dalam hutan di wilayah Poso.
Ternyata, kegiatan Santoso dan pengikutnya mulai mendapat perhatian dari sejumlah jaringan teroris, salah satunya Mujahidin Indonesia Barat (MIB), yang dipimpin Abu Roban.
Alhasil, kehadiran Daeng Koro juga membuka akses komunikasi Santoso dan Abu Roban yang berbasis di Solo. Daeng Koro adalah teroris yang pernah mengenyam pelatihan militer di Filipina selatan.
Lalu, pada medio 2012, Abu Roban menginstruksikan pengikutnya untuk membantu kelompok Santoso dengan melakukan aksi fa'i atau pencurian untuk mendanai kegiatan amaliyah.
Selain itu, sejumlah anggota MIB juga mulai menuju Poso. Mereka berasal dari Solo dan Nusa Tenggara Barat.
Selain itu, Daeng Koro juga melibatkan para pengikutnya yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan, untuk bergabung dengan Santoso di Poso, sekaligus menjadi pemasok logistik untuk kelompok Santoso.
Setelah memiliki sekitar 40 anggota, Santoso tampil untuk pertama kali dalam sebuah video berdurasi 6 menit 3 detik berjudul "Mujahideen of East Indonesia presents A Risaalah for The Muslims in Poso urging Jihad against the evil Densus 88".
Video itu sekaligus mendeklarasikan kehadiran kelompok MIT dan Santoso sebagai amir (pemimpin).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/tni-ad-di-poso_20160722_122215.jpg)