Ritual Panen Madu Timor Di Hutan Amfoang

Merayu Lebah Lewat Pantun (1)

Hawa dingin yang menyelimutu Kampung Haubesi, Dusun Satu, Desa Oh'aem Satu, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang tidak mampu mengusir Petrus Ed

Editor: Alfred Dama
POS KUPANG/JOHN TAENA
Sarang lebah yang bergelantungan di hutan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang. 

Laki-laki Amfoang baru dianggap mampu dan layak menjadi seorang kepala keluarga jika sudah menjadi meo one.

SUARA burung hantu pertanda malam terdengar bersahutan dari dalam hutan Enaun yang dipadati pohon berusia ratusan tahun, Jumat (24/6/2016) lalu. Pohon di hutan itu antara lain Kabesak (acacia leucophloea), Neke (gossampinus malabarica), Nitas (sterculia foetida), Angkai (albizzia chinensis), Beringin (ficus benyamina), Kapuk (ceiba pentandra), Ampupu (eucalyptus urophylla), Hue (eucalyptus albu), Jambu Air (eugenia spp) dan lainnya.

Hawa dingin yang menyelimutu Kampung Haubesi, Dusun Satu, Desa Oh'aem Satu, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang tidak mampu mengusir Petrus Edwar Taos (78) untuk meninggalkan hutan Jumat malam itu.

Lelaki paruh baya itu telah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk menjaga dan melestarikan hutan warisan leluhurnya.

Sebagai pemuka dan tokoh adat, Petrus tidak mau hutan rusak. Apalagi berbagai pohon yang tumbuh di hutan itu merupakan lokasi bersarangnya lebah, sumber pendapatan masyarakat.

"Dulu kalau mau panen madu seperti ini, biasanya bunuh kerbau baru kita ambil madu," kata Petrus kepada Pos Kupang saat acara panen madu di Hutan Enaun, Jumat (24/6/2016) malam.

Dia menjelaskan, para leluhur mewariskan sejumlah larangan yang wajib dipatuhi. Larangan dikukuhkan melalui sumpah adat itu wajib hukumnya dipatuhi semua orang.

Apabila melanggar sumpah adat, maka yang bersangkutan akan berusan dengan alam dan mendapat musibah.

"Banu (larangan, Red) merusak hutan atau curi madu. Langgar berarti resiko tanggung sendiri, kalau kita tahu nanti kena denda tapi kalau tidak tahu berarti alam yang tegur. Itu bisa celaka atau sakit sampai mati " jelasnya.

Ritual yang sama dilakukan untuk memohon restu leluhur agar petugas atau meo one yang mengambil madu dari ketinggian pohon dilindungi. Upacara biasanya berlangsung di dalam hutan. Usai ritual adat para petugas mulai menyalakan lug atau alat untuk mengusir lebah dari sarangnya secara bersamaan. Alat itu terbuat dari sabut kelapa dan rumput kering.

Saat para meo one menyalakan lug seketika hutan Enaun yang semula sepi berubah ramai. Sambil menunggu para meo one pulang membawa hasil madu, kaum perempuan terus melantunkan lagu dan berbalas pantun. Begitupun para tetua adat, tak henti-hentinya melantunkan pantun yang berisi petuah agar terus menjaga dan melindungi hutan.

Nyanyian dan pantun merupakan bagian dari ritual panen madu Timor di Amfoang Selatan. Para tetua adat yang mengambil tempat khusus bersama kaum perempuan, jaraknya sekitar 100 meter dari pohon tempat lebah bersarang, terus berpantun. Pesannya agar terus menjaga dan melestarikan hutan. Hutan merupakan rumah bagi lebah yang menghasilkan madu berlimpah untuk manusia.

Hal serupa dilakukan para meo one dari atas pohon. Sambil merangkak dan berjingrak menuju sarang lebah yang berada di ujung dahan, mereka terus melantunkan pantun. Tujuan dari semua ritual itu agar lebah tidak berpindah tempat namun tetap berada di lokasi hutan itu setelah madunya diambil.

"Kita punya saudari (lebah, Red) jangan marah. Kita kan mau ambil madunya jadi harus rayu dia supaya tidak lari atau pindah ke tempat lain. Jadi dia harus diperlakukan seperti saudari kita sendiri. Meo one harus bisa menyanyi untuk rayu saudari kita di atas pohon supaya madunya banyak," kata Petrus.

Meo one yang bertugas memanen madu, harus mematuhi sejumlah pantangan. "Tiga atau empat hari sebelum panen tidak boleh mandi apalagi pakai barang yang wangi. Kalau anak muda itu tidak boleh bawa perempuan punya barang, foto, lenso, gelang atau cincin. Bagi yang sudah menikah itu jangan berkelahi dengan istri. Jadi kalau ada masalah tidak boleh panen," katanya lagi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved