LIPSUS

Siswa Jangan Ambil Bahan di Internet

Dalam era digital ini tidak semua informasi yang termuat secara online bisa dipertanggungjawabkan.

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: omdsmy_novemy_leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Kepala Badan Perpustakaan Daerah NTT, Ir. Frederik JW Tielman, M.Si, menegaskan, dalam era digital ini tidak semua informasi yang termuat secara online bisa dipertanggungjawabkan.

Pasalnya, lanjut Tielman, orang bisa saja membuat tulisannya menarik, tapi setelah ditelusuri ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Karena itu, saya harapkan siswa jangan ambil bahan dari internet untuk mengerjakan tugas dari guru. Demikian juga mahasiswa jika mengerjakan tugas dari dosen jangan hanya ambil bahan di internet. Boleh manfaatkan internet, tapi harus cross check dengan buku asli di perpustakaan," tegas Tielman, saat ditemui Pos Kupang, beberapa waktu lalu di kantornya.

Tielman mengakui tantangan yang dihadapi pengelola perpustakaan adalah perkembangan teknologi informatika (TI). Seiring perkembangan itu, lanjutnya, masyarakat perlu mewaspadai dalam memanfaatkannya, karena terkadang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Seiring dengan pesatnya perkembangan (era digital), pembaca telah berubah secara radikal, mulai dari perilaku mereka mencari informasi memanfaatkan internet, cara mereka belajar sambil bermain games, mendengarkan musik dan kesenangan mereka dalam berkolaborasi serta berbagi informasi melalui jejaring sosial," kata Tielman.

Berbagai hal tersebut, lanjutnya, perlu diimbangi perpustakaan. Sebab, tandas Tielman, perpustakaan masih tetap menjadi pilihan utama untuk referensi bagi pembaca.

Menurut dia, perkembangan TI sudah dialami masyarakat saat ini dan tidak bisa dihindari. "Karena itu, kami di perpustakaan terus berinovasi dengan memodifikasi layanan dan mengikuti perkembangan zaman. Kami juga telah mengembangkan TI dan website di perpustakaan," ujarnya.

Tielman menjelaskan, secara umum, perpustakaan mengalami tantangan menghadapi era digital dan perpustakaan dikatakan berhasil apabila perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan pemustaka atau pembaca.

"Kami juga telah mengembangkan TI dan ada website, di mana orang yang mengunjungi website kami dikategorikan sebagai pengunjung perpustakaan. Di perpustakaan ini sudah bisa akses buku elektronik (e-book) secara gratis," tambahnya.

Mengenai wajib membaca yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, agar siswa membaca 15 menit sehari, Tileman mengatakan, itu merupakan gerakan massal dan harus menjadi perhatian semua pihak.

"Hal lain, bahwa perpustakaan daerah ini tidak membawahi perpustakaan yang ada di kabupaten/kota se- NTT. Kami ada kerja sama dalam hal pelayanan perpustakaan dan peningkatan sumber daya manusia. Kalau magang dan pelatihan kami saling membantu," ujar Tielman.

Bisa Ditinggalkan
Perkembangan teknologi dan informatika (TI) yang semakin pesat menjadi tantangan bagi perpustakaan. Karena itu, perpustakaan perlu menyesuaikan dan mengikuti perkembangan.

Hal ini disampaikan Wakil Dekan III FKIP Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Dr. Johny F. Lumba,S.Pd.M.Pd, kepada Pos Kupang, Kamis (23/6/2016).

"Kalau kita melihat satu dasawarsa terakhir ini memang perkembangan TI semakin pesat. Ini menjadi tantangan berat bagi media lokal seperti perpustakaan," kata Johny. Menurut dia, sejak adanya revolusi digital sekitar tahun 1980-an dan berlanjut sampai saat ini, menandai awal revolusi era informasi.

Bahkan, revolusi informasi itu mengubah cara pandang seseorang dalam menjalani kehidupan yang sangat canggih saat ini. "Saya melihat perkembangan ini bisa membuat perpustakaan ditinggalkan oleh pembaca, karena semua sudah serba internet, kapan dana di mana saja dapat diakses," kata Johny.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved