Sumpah Serapah

"Dengan mulut kita mengagungkan Allah, dengan mulut yang sama kita mencerca sesama"

Editor: Rosalina Woso
Shutterstock
Ilustrasi 

Waktu itu memang sering terjadi kemalingan di Pasar Pelita. Dengan enteng tetangganya balik berkata, "Ah, biarin aja kalau kebongkaran!"

Esok paginya, gempar, tokonya betul-betul kemalingan!

Sembarang mengucapkan bisa menjadi kenyataan. Tidak sedikit orang-orang berkata: Ah, mustahil! Gua gak mampu! Nasib gua kok jelek ya? Mo gimana lagi?

Sering juga kita mendengar orangtua dengan nada tinggi mengatakan kepada anaknya sendiri: dasar anak bodoh! Pemalas! Udah gede mo jadi apa lo! Dan segala jenis makian terus meluncur dari mulut orangtuanya apabila sudah marah.

Tidak ada salahnya apabila kita menghindari segala sumpah serapah atau sejenisnya yang kurang lebih sama yang muaranya hanya membawa penderitaan.

Tidak ada salahnya kita menghindari hukuman melalui ucapan sumpah serapah.

Orang bilang, mulutmu harimaumu. Tidak ada salahnya dalam keadaan emosi setinggi apa pun kita sanggup mengatakan: Kamu pasti bisa berubah! Kamu anak baik! Kamu pasti berhasil! Jangan mudah menyerah! Orang lain bisa, kamu juga pasti bisa!

Lebih baik memuji, ketimbang mencela. (Kompas.Com)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved