Kota KASIH tak Aman Lagi

Kejadian itu menimpa Agustinus Seran (35), warga Desa Oebetun, Kecamatan Reinhat, Kabupaten Malaka,

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

POS KUPANG.COM - Kisah perampokan yang selama ini terjadi di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Sumatera mengulang kembali di Kota Kupang. Modus-modus kejahatan sadis telah menjadi bagian dari kehidupan kita di sini. Di kota dengan predikat Kota KASIH (Kupang, Aman, Sehat, Indah dan Harmonis) ini. Dan, rasanya kota ini sudah tak aman lagi.

Kejadian itu menimpa Agustinus Seran (35), warga Desa Oebetun, Kecamatan Reinhat, Kabupaten Malaka, Jumat (3/6/2016) sore. Agus baru tiba dari Kalimantan menumpang KM Bukit Siguntang. Ia turun kapal di Pelabuhan Tenau kemudian berniat menuju ke Terminal Oebobo Kupang dan selanjutnya menggunakan bus menuju ke kampung halamannya. Karena itu, dengan tarif murah sebagai modus para pelaku membawanya ke Terminal Oebobo menggunakan mobil rental.

Namun di tengah perjalanan, mobil berbelok ke Jalur 40 hingga ia dirampok. Semua bawaan lelaki ini diambil secara paksa, termasuk uang di dompet sebanyak Rp 1 jutaan.

Kita memang patut bersedih karena Kota KASIH ini mulai 'tercemar." Sejujurnya, kejadian ini bukan yang pertama kali. Sudah beberapa kasus yang menimpa para penumpang yang baru turun dari kapal Pelni.

Pihak kepolisian diharapkan memberi perhatian serius terutama menciptakan kembali rasa aman bagi warga kota ini. Tekanannya ialah setiap taksi rental atau taksi pribadi dengan alasan apa pun, misalnya ingin menjemput keluarga diharapkan melapor dan petugas dapat mencatat identitasnya. Dengan demikian dapat meredam persoalan-persoalan.

Pikiran lainnya mobil rental resmi Taksi GOGO bisa digunakan sebagai jaminan keamanan ketika belum ada aturan baru yang berlaku. Karena itu, dengan kejadian ini semua pihak termasuk Pemkot Kupang dapat melakukan koordinasi dengan semua stakeholder.

Perlunya penetapan tarif dari Pelabuhan Tenau maupun Bolok ke Kota Kupang sangat perlu dilakukan agar para penumpang dapat mengetahuinya. Sebagaimana pola yang dilakukan pihak Angkasa Pura Bandara El Tari Kupang. Pola antre mobil di Pelabuhan Tenau dan Bolok sudah sepantasnya dilakukan.

Kejadian di Pelabuhan Tenau itu hampir sama terjadi di pelabuhan- pelabuhan lainnya di NTT. Misalnya, ketika kapal feri baru merapat, ada banyak calo yang menawarkan tumpangan dengan cara-cara tak patut. Seperti "memaksa" membawa barang penumpang ke angkutannya. Sikap ini pun tergolong sebagai "perampokan" karena dilakukan dengan cara-cara pemaksaan. Terkadang pula barang bawaan penumpang hilang.

Modus lainnya, yakni penawaran di pelabuhan murah, namun di tengah jalan dinaikkan sehingga penumpang menjadi bingung. Yang menjadi soal pola yang dilakukan adalah sindikasi. Orang pertama yang menawar, orang kedua yang menagih sehingga bisa terjadi perbedaan tarif sesukanya.

Karena itu, untuk menciptakan rasa aman di kota ini atau tempat- tempat lain, aparat berwenang perlu mengambil langkah-langkah penanganan untuk mengurangi bahkan meniadakan kasus-kasus ini. *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved