Kemelut Tenaga Kerja NTT di Kalteng 2

Mereka Lebih Memilih Mie Instan

EVAKUASI pengungsi dari Jalan Badak menuju Aula Paroki Santa Maria Katedral Palangka Raya akhir Pebruari 2016 menggugah simpati banyak orang.

Penulis: Ferry Jahang | Editor: Ferry Jahang
POS KUPANG
POS KUPANG/FERRY JAHANG BATAS WAKTU--Sekretaris VIVAT Indonesia, Suster Theresia Din, SSPS sedang mengumumkan kepada para pengungsi batas waktu tinggal di Aula Geraja Katedral Palangka Raya, Selasa (17/05/2016) pekan lalu. 

POS KUPANG.COM---EVAKUASI pengungsi dari Jalan Badak menuju di Aula Paroki Santa Maria Katedral Palangka Raya akhir Pebruari 2016 menggugah simpati banyak orang.
TUMPUKAN bantuan tersusun rapi di Sekretariat Komunitas Orang Muda Katolik (KOMKA) Santa Ursula. Gedung yang terletak di belakang Paroki Katedral Palangka Raya menjadi tempat penyimpanan berbagai bantuan dari masyarakat di Palangka Raya.
Di bagian kiri dan kanan pintu masuk gedung itu tersusun beberapa karung beras dan dos-dos mie instan. Setiap hari bantuan tersebut terus berkurang karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi. Tiga kali sehari para pengungsi menyantap makanan yang disiapkan ibu-ibu pengungsi sendiri.
Namun, miris juga melihat di salah satu sudut ruangan penampungan bantuan untuk pengungsi. Betapa tidak, tumpukan buah nangka yang dipasok masyarakat Kalteng tidak pernah berkurang. Bahkan, tumpukan buah nangka itu sudah rusak sebagiannya.
"Kita sudah sarankan agar nangka itu dimanfaatkan untuk sayuran-sayuran, tetapi mereka tidak pernah mau. Padahal warga mengirim buah nangka itu karena peduli dan prihatin dengan kondisi para pengungsi," kata Sekretaris VIVAT Indonesia, Suster Theresia Din, SSPS kepada Pos Kupang, Senin 16/5/2016) lalu.
Oleh karena tidak dimanfaatkan maka pada hari Selasa (17/5/2016) puluhan buah nangka tersebut dikumpulkan dalam dua buah karung plastik untuk dibuang. Kondisi ini menjadi keprihatinan beberapa warga NTT di Palangka Raya termasuk Pastor Paroki Katedral Palangka Raya, Romo Patris Alu Tampu, Pr. Para pengungsi lebih senang mengelola mie instan daripada membersihkan buah nangka untuk sayuran.
"Pada waktu mereka tinggal di Jalan Badak kehidupannya sangat memprihatinkan. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Bahkan ada sejumlah pengungsi yang sudah mencari daun pakis untuk makanan. Kondisi di Katedral Palangka Raya sekarang ini sudah jauh lebih baik," kata Kadis Nakertrans Provinsi Kalimantan Tengah, Drs. Harsy Rampay, M.Si kepada tim dari Pemprov NTT, Senin (16/5/2016) di ruang kerjanya.
Menurut beberapa suster, setelah dipindahkan dari lokasi pengungsian di Jalan Badak ke Aula Paroki Katedral semakin banyak saja yang menderita sakit. Anak-anak diserang flu, panas dan berbagai jenis penyakit lainnya. Untuk itu, dua kali dalam seminggu tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kalteng melakukan pemeriksaan kesehatan untuk semua pengungsi. "Ada tiga orang yang sedang hamil," kata Maria, seorang pengungsi.
Keprihatinan tidak hanya soal buah nangka yang tidak dimanfaatkan, tetapi juga prilaku dari para pengungsi yang tidak pernah mengikuti misa dan kebaktian pada hari minggu dan beberapa kali terlibat perkelahian. "Tidak pernah datang ke gereja. Padahal kita selalu menghimbau untuk ikut misa atau kebaktian tiap hari minggu. Namun tidak diikuti. Padahal mereka berada di sekitar gereja," ujar Suster Kalumba, SSPS.
Mendengar informasi kalau para pengungsi tersebut tidak pernah ke gereja membuat Ketua Tim dari Pemprov NTT, Samuel Adoe dan Sekretaris Komisi V DPRD NTT, Anwar Fajrul berang. "Ini keterlaluan. Kita saat ini dalam kesulitan maka bersandar dan berpasrah kepada Tuhan harus kita lakukan. Apa susahnya datang ke gereja yang hanya berdampingan dengan lokasi penampungan kita. Kita akan terus mendapatkan kesulitan dalam hidup kalau tidak pernah berdoa dan bersyukur," kata Adoe.
Bahkan, Anwar Hajrul mengultimatum para pengungsi untuk mengikuti misa pada hari Minggu 15 Mei 2016. "Saya tunggu bapak dan ibu di gereja ini pada hari minggu," kata Anwar saat pertemuan dengan para pengungsi, Sabtu (14/5/2016).
"Kemarahan" tim dari Pemprov NTT ini ternyata mujarab, sebab pada hari Minggu (15/5/2016) terlihat sebagian pengungsi masuk ke gereja untuk mengikuti misa. Begitu juga ketika dilakukan perayaan ekaristi pelepasan para pengungsi, Senin (16/5/2016) lalu. Perayaan ekaristi itu dipimpin Pater Paul Rahmad, SVD dan didampingi Romo Patris Alu Tampu, Pr dan Romo Penta, PR, di Paroki Karedral Santa Maria Palangkaraya.
Misa dihadiri para pengungsi yang di PHK PT. Argo Lestari Sentosa yang hendak kembali bekerja di Kalteng dan yang mau kembali ke Kabupateb Belu NTT.
Misa juga dihadiri para suster dari biara SSPS dan koor dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Kalteng.
Tidak hanya soal buah nangka dan mengikut ibadah pada hari minggu, para pengungsi yang memilih bekerja kembali di beberapa perusahaan perkebunan di Kalimantan Tengah pergi tanpa pamit kepada suster, pastor atau panitia dari Paguyuban Flobamora Palangka Raya. Akibat dari adanya pengungsi yang pergi diam-diam ke tempat kerjanya sehingga data jumlah pengungsian terus berubah. Hampir setiap hari terjadi pengurangan jumlah pengungsi. Namun ada juga beberapa orang tenaga kerja yang datang dari tempat kerjanya untuk pulang ke NTT difasilitasi pemerintah. (ferry jahang/bersambung)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved