Hidup yang Manusiawi

Apa yang ingin diungkap lewat kalimat-kalimat ini? Sebenarnya semakin teknologis gaya hidup manusia

Editor: Dion DB Putra
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Oleh Arie Putra
Pesinggah di Kota Kupang

POS KUPANG.COM - Hanya sedikit isi rumah tangga modern yang tidak dilengkapi dengan barang-barang teknologi seperti televisi dan telepon genggam. Hampir menjadi sebuah kenyataan yang sulit dibantah akan adanya pembengkakan volume biaya hidup untuk rumah tangga tanpa anak sekalipun.

Apa yang ingin diungkap lewat kalimat-kalimat ini? Sebenarnya semakin teknologis gaya hidup manusia modern semakin gigih pula ia harus mencari modal untuk membiayai jenis tingkah laku yang dahulu kala tak perlu dibiayai. Konsekuensinya adalah seseorang harus mendapatkan sumber uang lebih banyak untuk bisa bertahan hidup tanpa dipermalukan oleh tetangga yang tiap detik mematut diri di depan cermin untuk mengetes warna lipstik atau model rambut terbaru. Lebih jauh lagi, seseorang harus memberikan sebagian besar waktu potensial dalam hidupnya untuk bekerja demi menjaga keselarasan antara mode dan harga diri.

Kehidupan kota adalah eksponen utuh dari gaya hidup teknologis. Mulai dari pewarna kuku para perempuan sampai urusan klimis para pejabat diatur benda teknologi. Perilaku serong di tempat gelap hampir sama biayanya dengan pengeksekusian kebijakan publik di kantor-kantor pemerintah. Kota menjadi arena tembus pandang para pakar ekonomi, sosial dan politik untuk melihat bahwa ada sekian banyak jaringan kehidupan terbuka maupun terselubung yang harus diperhatikan untuk menjaga keseimbangan hidup yang manusiawi.

Kota, Teknologi, dan Uang
Tiga serangkai tulen idaman manusia modern. Tiga yang menunggal dalam apa yang dirangkum dalam istilah kosmopolitan -- bersatunya segenap unsur yang datang dari pelbagai belahan dan arah dunia -- dalam sebuah diri yang berjuang mati-matian di bawah cahaya matahari kehidupan.

Manusia kota menjadi subyek yang sepi di tengah keramaian yang gempita. Sebab, percakapan dimonopoli oleh suara yang entah keluar dari sumber apa di mall atau diskotek yang berjejer di kiri kanan jalan. Yang lebih banyak bercakap-cakap adalah subyek setengah manusia: rekaman suara perintah seorang perempuan atau lelaki yang berbunyi di pintu supermarket.

Manusia kota menjadi terbiasa untuk patuh pada perintah seorang anonim di balik box. Gejala ini bukan sesuatu yang abnormal, tetapi menjadi adat kebiasaan masyarakat kota.
Manusia semakin teralienasi dari dirinya sendiri di hadapan teknologi. Ada kemampuan alamiah dalam dirinya yang mesti dilumpuhkan karena telah digantikan oleh teknologi. Misalnya, manusia tidak terlalu perlu menggunakan tangannya untuk melakukan pekerjaan tangan seperti mengangkat beban atau mengupas bawang.

Benda-benda teknologi modern telah ada untuk melakukan pekerjaan serupa. Manusia hanya perlu menggunakan akalnya untuk mengoperasikan alat bantu teknologi tersebut. Walhasil, organ tangan tidak terlalu perlu difungsikan. Problem alienasi inilah yang banyak dikaji dan diperbincangkan oleh para pakar dewasa ini.

Uang telah juga menjadi harta karun yang banyak dicari manusia-manusia modern. Akses kepada sumber-sumber kehidupan yang layak diperantarai oleh uang. Sistem ekonomi tradisional seperti barter tidak mungkin lagi diterapkan dalam paradigma ekonomi modern.

Ekonomi modern bekerja di atas asas efektivitas dan percepatan. Perputaran barang dan jasa harus efektif dan bermuara pada keuntungan yang besar. Tentu ada banyak aspek kehidupan yang terlewatkan dari konstelasi modern ini. Dalam sistem tradisional barter, pertemuan antara manusia dengan manusia serta negosiasi nilai masih mungkin terjadi. Akan tetapi dalam sistem ekonomi modern yang dikendarai oleh uang, nilai tukar menjadi penting dibanding nilai guna. Hal ini membawa pengaruh pada relasi manusia dengan manusia.

Antara kota, teknologi, dan uang terkandung semacam relasi yang tak mungkin dipisah satu sama lain. Gelombang besar manusia yang mengalir ke kota dimagnetisasi oleh sensasi instan kehidupan kota. Kota menjadi sebuah paradigma penting yang di dalamnya teknologi dan uang menjadi aktor baru. Urbanisasi yang tidak dikaji dengan baik menimbulkan problem kemanusiaan yang sulit dipecahkan. Penggusuran pemukiman liar yang banyak dibuat di beberapa wilayah kota di Indonesia bukanlah solusi sehat untuk mengatasi problem perkotaan.

Mengubah cara pandang masyarakat tentang kota adalah cara yang mungkin dapat menumbuhkan kesadaran calon-calon penghuni kota di hari esok sehingga kota tidak selalu dilihat sebagai eden yang baru.

Hidup yang Manusiawi
Mengusahakan hidup yang manusiawi di tengah gegap gempita hidup modern menjadi sebuah perjuangan. Akan selalu ada kompetisi tanpa wasit dalam setiap pertarungan mempertahankan hidup. Pemerintah dan segenap pemangku kebijakan adalah kelompok manusia yang harus lebih dahulu sadar akan trend buruk modernitas. Masyarakat akan mengalami hidup yang nyaman dan sehat tergantung pada eksekusi kebijakan pemerintah.

Masyarakat memang dituntut untuk proaktif untuk mengurus diri sendiri lewat kerjasama dengan pemerintah. Namun demikian, pengalaman bangsa yang banyak dikuasai kartel dan koruptor tidak menjamin bandul kesejahteraan diarahkan pada kepentingan rakyat banyak. Swadaya masyarakat yang didukung pemerintah lewat bantuan yang memadai akan sedikit demi sedikit membawa masyarakat kepada kondisi hidup yang layak.

Kehidupan kota yang gegap gempita menjadi tantangan berat untuk mengusahakan hidup yang manusiawi. Teknologi dan uang yang beredar di luar kendali juga menjadi area yang harus dibersihkan dari gelapnya hidup perkotaan. Bisakah diwujudkan hidup yang manusiawi di lorong-lorong kota yang riuh ini?*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved