Senin, 27 April 2026

Dunia Penerbangan Kita dalam Lingkaran Ketidakpastian

Pada tanggal 10 Mei yang lalu telah terjadi hal yang sangat fatal dalam dunia penerbangan kita

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS/JITET
Ilustrasi 

Inilah suatu kebiasaan yang memang tengah kita lakoni bersama. Satu kebiasaan yang "sangat luar biasa", karena tidak hanya sampai pada titik dilupakan saja akan tetapi ada proses penambahan persoalan yang sama untuk diulangi kembali.

Sesaat setelah kejadian tabrakan di Halim, hanya selang beberapa hari saja terjadi lagi dua peristiwa mirip yaitu "hampir" atau nyaris tabrakan pesawat yang fatal .

Tidak ada pembahasan mendalam, selain kemudian justru kini sedang digodok bagaimana menambah lagi rute penerbangan komersial di Halim menjelang liburan Lebaran nanti.

Realitanya, beberapa waktu setelah kejadian tabrakan di Halim justru jumlah penerbangan komersial menjadi bertambah banyak yaitu ditingkatkan menjadi lebih kurang 100 take off dan landing penerbangan komersial dalam satu hari.

Sudah tidak diketahui lagi bagaimana nasib 4 skadron udara yang berpangkalan di Lanud Halim Perdanakusuma dalam melaksanakan operasi dan latihan penerbangannya sehari-hari.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan mudah dapat dikaji dengan akal sehat dan pemikiran yang jernih yaitu ada kesalahan mendasar dalam pengelolaan penerbangan kita secara keseluruhan yang sudah terlanjur terjadi bertahun-tahun lamanya.

Direktur Utama Angkasa Pura dan Menteri Perhubungan yang baru adalah pejabat yang menjadi "korban" harus menghadapi tantangan luar biasa berat untuk menerima kondisi dunia penerbangan kita yang sudah terlanjur "amburadul".

Indikasi amburadul ini dengan sangat sederhana dapat dilihat pada kondisi 10-15 tahun belakangan ini yang menunjukkan pesatnya pertumbuhan penumpang yang tidak diiringi dengan ketersediaan sumber daya manusia penerbangan (antara lain pilot, teknisi dan Air Traffic Controller) serta kesiapan infrastruktur.

Ditambah lagi minusnya kemampuan unjuk kerja Kementrian Perhubungan yang antara lain sudah mengalami penyakit kronis kekurangan Inspektor Penerbangan.

Indikasi yang sangat mencolok dan terang benderang dalam hal ini adalah, penjelasan dari pihak Angkasa Pura sendiri beberapa tahun lalu bahwa kapasitas Cengkareng yang sudah hampir tigakali lipat dari kemampuan pelayanannya.

Bandara yang didisain hanya untuk 22 juta penumpang per tahun kini harus melayani lebih kurang 60 juta penumpang setiap tahunnya. Hasilnya adalah delay penerbangan yang begitu parah terjadi.

Lebih parah lagi, kesemrawutan itu justru kini dipindahkan ke Halim.

Laporan terkahir adalah banyak penumpang yang mengeluh saat tiba di Halim yang harus berputar-putar dulu di atas lebih kurang satu jam untuk baru bisa landing.

Circle of uncertainty

Ternyata setelah tabrakan pesawat di Halim yang kemudian terjadi adalah justru jumlah penerbangannya ditambah (believe it or not).

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved