Paskah dan Ujian Nasional 2016
Bagaimana keduanya dikaitkan? Sebagai hajatan yang mengusung kepentingan publik
Oleh Fransiskus B. Hormat
Pengawas SMA/SMK pada Dinas PPO Kabupaten Manggarai
POS KUPANG.COM - Setelah hari raya Paskah tahun ini berlalu kita segera memasuki agenda nasional yakni Ujian Nasional (UN) SMA/MA/SMK/MAK yang diselenggarakan pada tanggal 4-8 April 2016.
Mengaitkan Paskah dan UN, apa boleh? Jawabannya muncul dalam pernyataan yang sudah lazim kita dengar ini, "Pemerintah punya rakyat agama punya umat". Umat atau rakyat adalah satu tujuan dari dua pelayanan, itulah benang merahnya. Bagi umat Kristiani Flobamora dua agenda ini selalu terjadi berbarengan sudah hampir lebih dari tiga dasawarsa. Karena itu, Paskah dan UN sebenarnya dua agenda yang berada dalam derap langkah yang sama menuju pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Bagaimana keduanya dikaitkan? Sebagai hajatan yang mengusung kepentingan publik, dalam pelaksanaannya UN tidak terlepas dari tuntutan integritas moral. Karena itu, penyelenggara UN dari tingkat pusat sampai daerah menandatangani pakta integritas termasuk kepala sekolah dan guru-guru yang mengawas UN dalam ruang kelas.
Tuntutan itu merupakan konsekuensi logis dari penyerahan kewenangan kepada sekolah untuk menentukan kelulusan siswa yang disanding dengan Permendikbud No 57 Tahun 2015 tentang penilaian hasil belajar oleh pemerintah melalui UN, dan penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan melalui ujian sekolah/madrasah/pendidikan kesetaraan pada SMP/MTs atau yang sederajat dan SMA/MA/SMK atau yang sederajat serta Prosedur Operasi Standar (POS) UN 2016 yang dikeluarkan BSNP. Karena pada prinsipnya kebebasan mengandaikan adanya tanggung jawab. Kita sama tahu, aturan umumnya dibuat karena dugaan pelanggaran yang potensial terjadi. Maka tidak ada salahnya, Paskah sebagai hajatan rohani menyuarakan fungsi profetisnya pada labirin ini.
Salah satu artikulasi dari pendidikan yang membebaskan adalah ketika sekolah diberikan kewenangan untuk menentukan kelulusan siswa dengan satu-satunya alat ukur yakni Ujian Sekolah (US). Karena itu hadirnya UN pemerintah yang lengkap dengan peraturan menterinya, meskipun bermaksud baik, tetap "dicurigai" oleh sekolah sebagai pemberian kebebasan setengah hati. Adanya respons demikian menunjukkan bahwa sebenarnya sekolah-sekolah juga memiliki gelagat "tidak ingin diatur".
Padahal UN meski hasilnya bukan lagi penentu kelulusan siswa, sampai saat ini tetap merupakan alat kontrol yang handal dengan tujuan pertama mengukur derajat penguasaan Iptek dari kawasan ke kawasan dalam NKRI. Kedua, dari hasil pengukuran itu pemetaan pendidikan dapat dilaksanakan. Intervensi yang dilakukan pemerintah untuk mendongkrak mutu pendidikan sangat bergantung pada hasil pemetaan salah satunya lewat UN. Jika demikian halnya apa yang mesti ditakutkan sekolah?
Jurang Yang Menganga Lebar
Ada sebuah kecemasan yang melanda kepala sekolah dan guru-guru ketika sampai tahun 2015 lalu hasil US disandingkan dengan hasil UN pada mata pelajaran yang sama. Ada jurang yang menganga lebar antara hasil US dan UN yang menyebabkan sekolah masuk dalam zona merah.
Nilai US dari mata pelajaran yang di-UN-kan menjulang tinggi sementara nilai UN-nya sangat rendah. Presentasi demikian tentu menjadi sindiran sekaligus tamparan keras yang memalukan dan memancing "kecurigaan" tentang keabsahan nilai US sekaligus mempertanyakan kinerja kepala sekolah dan guru.
Kenyataan pahit seperti inilah yang membuat kepala sekolah dan guru-guru menggalang misi untuk mempersempit jurang yang menganga lebar tersebut. Disparitas kalau tak bisa dihapus, sekurang-kurangnya tidak terpaut jauh. Hasil US dan UN setidaknya mendekati titik equilibrium. Cara untuk mencapainya merupakan titik yang paling kritis dan sulit. Sulit karena dituntut kerja keras, kritis karena rawan manipulasi. Namun bila kerja keras dan tryout yang dilaksanakan berkali-kali hasilnya tidak meyakinkan, apakah kenyataan itu tidak membuat kepala sekolah dan guru serta siswanya galau?
Godaan dan Spirit Paskah
Adalah Gerardus Kuma Apeutung dan Albertus Muda Atun (Welcome Ujian "Kejujuran" Nasional, UN Jujur dan Pendidikan Nati Nurani, Pos Kupang, 15 Maret 2016, hal. 4 ) dua dari sekian banyak guru SMA di NTT yang secara terbuka mengungkapkan kegelisahannya. Betapa tidak di tengah tekanan publik yang menuntut anaknya lulus, pertaruhan gengsi sekolah dan hasil tryout yang tidak menyakinkan bisa melemahkan integritas kepala sekolah dan guru-guru yang pada akhirnya tergoda untuk berbuat curang. Peluang itu sangat mungkin karena otoritas untuk menentukan kelulusan ada pada sekolah. Inilah kaitan UN dengan Paskah yang telah kita rayakan.
Tuhan Yesus dengan otoritas ilahi yang dimilikiNya bisa saja menghindari salib untuk menebus manusia, tapi Ia memilih penderitaan dan wafat di kayu salib. Tapi dengan jalan itu Ia bangkit dari kematian. Spirit yang dapat kita petik adalah untuk mencapai hasil UN yang maksimal, kita harus menderita dalam bentuk kerja keras lebih dahulu. Otoritas harus digunakan secara positif bukan untuk menyelewengkannya. Less is more. Semua sekolah yang besar dan kuat saat ini tumbuh dari sekolah yang kecil dan berkekurangan.
Paskah bermakna kebangkitan dari keterpurukan, kita perlu bekerja keras. Karena bagaimanapun, dari lulusan yang dihasilkan masyarakat akhirnya bisa menilai apa yang sekolah lakukan. Tokoh bernama Minke dalam "Jejak Langkah"nya Pramoedya Ananta Toer ( 2000:291 ) menyindir: "jangan tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah, seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya".*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/simulasi-ujian-nasional-di-kefamenanu_20160329_093153.jpg)