Rabu, 15 April 2026

Di TTU Ada Bayi Gizi Buruk Dirawat di Panti Gizi

Kedua bayi tersebut adalah warga Desa Ponu, Kecamatan Bboki Anleu-TTU. Dua bayi itu merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Ponu.

Editor: Ferry Ndoen
apson benu
DIRAWAT -Yuliana Nese (22 bulan), salah satu bayi penderita gizi buruk saat dirawat di Puskesmas Sasi-TTU, Senin (21/3/2016). 

POS KUPANG.COM, KEFAMENANU- Dua bayi penderita gizi buruk, yakni Yuliana Nese (22 bulan) dan Ermiliana Kaet (21 bulan) saat ini dirawat di Panti Rawat Gizi, di Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu.

Kedua bayi tersebut adalah warga Desa Ponu, Kecamatan Bboki Anleu-TTU. Dua bayi itu merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Ponu.

Dokter Olif ditemani Kepala Puskesmas Sasi, Brigita Binsasi ditemui di puskesmas setempat, Senin (21/3/2016) mengatakan, bayi Yuliana Nese saat dirujuk dari Puskesmas Ponu dua minggu lalu kondisinya tidak bisa jalan dan hanya menangis. Bayi itu memiliki berat 5,5 kilogram. "Bayi Yuli hanya gagal tumbu kembang,"ungkapnya.

Saat bayi Yuli dirawat, demikian Olif, sempat mengalami kenaikan berat badan mencapai 6,1 kilogram ketika diperiksa, Sabtu (19/3/2016). Saat ini bayi tersebut masih dirawat intensif di Panti Rawat Gizi setempat dan sudah mendapat pelayanan gizi makanan F100.

Untuk bayi Ermiliana Kaet, demikian Olif, setelah dirujuk dari Puskesmas Ponu satu minggu lalu dengan kondisi tubuh memrihatinkan.

Bayi itu menderita diare dan gizi buruk serta dehidrasi. Kondisi fisik cekung. Dengan kondisi pasien cukup parah maka pihak puskesmas merujuk pasien ke RSU Kefamenanu.

"Saat dirujuk ke rumah sakit langsung ditangani dokter Merfin dan kondisinya sudah lumayan baik. Diare sudah mulai berkurang. Lalu dirujuk kembali ke sini (panti rawat gizi) ternyata diare lagi," ungkap Olif diamini Brigita Binsasi.

Ermiliana Kaet, ibu bayi, demikian dokter Olif, sempat membuat kesalahan terhadap bayinya. Pasalnya, pihak perawat memberi resep khusus untuk penderita gizi buruk (F75).

"Ibu ini berpikir bahwa dokter hanya kasih cairan minum saja. Akhirnya sang ibu sembunyi makanan lalu dikasih suap makanan untuk anak. Anak mencret terus. Ibu bayi bilang itu penyakit orang bikin. Dia marah kenapa anaknya (Ermilia Kaet) cuma dapat minum saja. Padahal, itu resep khusus untuk gizi buruk. Terpaksa kami rujuk lagi ke rumah sakit karena mencret terus. Sempat kasih permen untuk anaknya," ujarnya Olif.

Dokter Olif mengaku, pihaknya sempat cek dampak HIV. Namun setelah diperiksa ternyata negatif. "Bayi Ermi saat datang bisa omong, bisa jalan. Mama cuma gendong saja. Akhirnya, bayi ini tidak bisa dikasih stimulasi. Kita mau kasih susu F75 ibu tidak mau,"ujar istri dari dr. Merfin.

Tentang asupan makanan untuk kedua bayi penderita gizi buruk, lanjut dr. Susi, pihaknya tidak memakai teori lama dimana diberi sayur dan buah namun diganti protein. "Kondisi kedua bayi gizi buruk sudah mengalami perubahan. Target 8,4 kilogram baru boleh pulang," ungkap Olif. (abe)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved