Selasa, 7 April 2026

Ibu Ani Yudhoyono Tak Punya Modal seperti Hillary Clinton

Meski memiliki kesamaan dalam hal mendampingi presiden sebagai Ibu Negara, sulit bagi Ani Yudhoyono

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono dan istri presiden terpilih Iriana Joko Widodo (kiri ke kanan) berfoto bersama sebelum memasuki Ruang Rapat Paripurna I, Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Hari ini, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK), dilantik menjadi presiden dan wakil presiden RI untuk periode jabatan 2014-2019. 

POS KUPANG.COM, JAKARTA -- Meski memiliki kesamaan dalam hal mendampingi presiden sebagai Ibu Negara, sulit bagi Ani Yudhoyono untuk menyamai popularitas Hillary Clinton.

Ani menyandang status Ibu Negara selama sepuluh tahun ketika Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden RI periode 2004-2009 dan 2009-2014. Hal yang sama dijalani Hillarry ketika Bill Clinton menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat selama dua periode.

"Dari survei-survei (popularitas) enggak muncul, dan ruang geraknya terbatas. Dan ketika menjadi istri Presiden, tidak ada sesuatu yang menonjol. Sulit juga kalau dibilang mau mengikuti Hillary Clinton," kata pengamat politik dari Universitas Gajah Mada, Arie Sudjito, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/3/2016).

Arie menambahkan, popularitas Hillary terbentuk ketika dirinya maju dalam konvensi Partai Demokrat di Amerika Serikat melawan Barrack Obama. Kapasitasnya pun kian meroket ketika ia ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri AS.

Menurut Arie, ketika Ani masih menjabat sebagai Ibu Negara, tidak ada prestasi menonjol yang dihasilkan olehnya.

"Bu Ani tidak punya modal kapital seperti itu (Hillary)," ujarnya.

Hanya strategi jelang Pilkada

Arie menduga, munculnya gambar Ani sebagai capres Partai Demorkat di media sosial tidak lebih untuk menjaring kekuatan partai itu jelang pilkada.

Popularitas Demokrat yang menurun kala Pemilu 2014 lalu, membuat partai itu harus memutar otak agar tingkat elektabilitasnya naik saat pilkada serentak gelombang kedua.

"Sekarang Demokrat ini kan sedang mencoba mencari harta karun yang bisa dikapitalisasi. Tapi kalau orientasinya capres ya berat," ungkap Ari. (Kompas.Com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved