Liputan Khusus
Bahan untuk Pengawet Jenazah Murah dan Mudah Didapat
Beberapa warga Kelurahan Manutapen, Kota Kupang, yang sudah melihat sendiri khasiat rempah-rempah
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM, KUPANG - Beberapa warga Kelurahan Manutapen, Kota Kupang, sangat antusias menjadikan rempah-rempah sebagai bahan pengawet jenazah. Selain mudah didapatkan di pasar, bahan-bahan yang digunakan juga sangat murah jika dibandingkan dengan membeli formalin.
Beberapa warga Kelurahan Manutapen, Kota Kupang, yang sudah melihat sendiri khasiat rempah-rempah untuk pengawetan jenazah, seperti Selfi Kale, Semuel Hauteas, Uly Rensini, dan Ani Nafi. Ditemui Kamis (25/2/2016) di rumah masing-masing, mereka menyatakan sangat mendukung jika pemerintah mau menggandeng swasta mengembangkan bahan-bahan herbal sebagai pengganti bahan kimia.
Selfi Kale mengatakan, banyak masyarakatyang belum tahu bahwa rempah-rempah bisa untuk mengawetkan jenazah. Selama ini kebanyakan orang mencari formalin untuk pengawetan jenazah.
"Jika bisa menggunakan rempah-rempah, saya rasa ini bagus untuk membantu sesama. Dan sudah diujicoba di Manutapen, ternyata hasil dan khasiatnya lebih bagus daripada formalin. Bertahan lama dan mayatnya dalam kondisi bagus, tidak rusak," ujarnya.
Kalau pakai formalin, demikian Slefi, selain mahal harganya, juga harus mengurus izin dari RT baru bisa dapat. Sedangkan rempah-rempah ini dapat dengan mudah karena bisa dibeli di pasar. Harapan ke depan, kata Selfi, pemerintah perlu mensoalisasikan bahwa selain formalin ada rempah-rempah untuk pengawet mayat.
Semuel Hauteas mengatakan, saat ibu kandungnya meninggal dunia belum lama ini di Kelurahan Manutapen, jenazah ibunya diawetkan dengan rempah-rempah racikan ibu pendeta. Semuel mengaku tidak terlibat langsung saat melakukan pengawetan, tapi ia melihat khasiat rempah-rempah sangat bagus. "Yang saya lihat, jenazah mama saya tidak bau dan tidak kaku, walau sampai tiga hari baru dimakamkan. Saya melihat seperti mama saya tidur biasa saja," ujar Semuel, pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi NTT.
Ia mengatakan, sejauh ini ada keinginan untuk membantu ibu pendeta mengembangkan rempah-rempah ini. Hanya saja karena berbagai kesibukan di kantor, sehingga belum bisa mendiskusikan hal ini bersama pendeta dan jemaat di Gereja Pniel Manutapen.
Semuel berjanji jika sudah pensiun dari PNS, ia akan fokus mengembangkan obat-obatan herbal bersama kelompok masyarakat di Kelurahan Manutapen. Sebab, saat ini selain rempah-rempah untuk pengawetan jenazah, juga sudah mulai memproduksi bahan-bahan herbal untuk pengobatan herbal. Dan, yang ia tahu sudah ada obat herbal yang memiliki izin dan nomor registrasi dari Balai Pengawasan Obat Makanan (POM) Kupang.
Uly Rensini mengatakan, ia dan keluarga sudah menyaksikan sendiri bagaimana pengawetan mayat menggunakan rempah-rempah yang diramu dan dilakukan oleh pendeta di Gereja Pniel Manutapen.
Jenazah yang diawetkan pakai rempah-rempah tahan lama dan tidak bau. Bahkan, wangi rempahnya harum. "Kami juga melihat mayat sepertinya tidak kaku, kalau dibandingkan jika disuntik formalin biasanya kaku dan hitam," ujar Uly.
Warga lainnya, Ani Nafi, mengatakan, sudah dua atau tiga kali di Kelurahan Manutapen, jika ada orang yang meninggal langsung ditangani oleh ibu pendeta.
"Biasanya, ibu pendeta yang menakar bahan-bahan rempah, dan kami membantu meraciknya. Ibu pendeta juga langsung menaburkan di jenazah, dan pengawetan bagian dalam diminumkan pada jenazah," katanya.
Ia berharap, warga bisa menggunakan rempah-rempah ini sebagai bahan pengawet jenazah. "Tidak dipaksakan dan tergantung dari keluarga yang berduka, mau atau tidak menggunakannya," ujarnya. (nia/ira)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-octovina-metboki-nalle_20160303_202541.jpg)