Kontroversi LGBT

Arus Pelangi: LGBT Adalah Pilihan akan Orientasi Seksual

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) sebenarnya pilihan orientasi seksual yang diambil oleh setiap orang.

Arus Pelangi: LGBT Adalah Pilihan akan Orientasi Seksual
ist
Yuli Rustinawati, Ketua Arus Pelangi Jakarta

NEWS ANALYSIS :
Yuli Rustinawati, Ketua Arus Pelangi Jakarta

POS-KUPANG.COM, KUPANG -  Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) sebenarnya pilihan orientasi seksual yang diambil oleh setiap orang. Dan, hendaknya pilihan itu dihargai dan tidak dipersoalkan apalagi sampai diskriminasi atau kekerasan terhadap mereka.

Bahkan seseorang menjadi LGBT itu sebenarnya sudah terbentuk sejak ia berupa janin di dalam kandungan.

LGBT bukan gaya hidup atau fenomena yang datang tiba-tiba dan menghilang. Tapi LGBT sudah ada sejak zaman dahulu, sekarang dan selamanya. LGBT itu bukan penyakit sehingga tidak bisa disembuhkan. Menjadi berbeda karena memilih orietatasi seksual yang berbeda itu tidak salah dan tidak dosa.

Perbedaan itu harus dihargai dan diakui. Seperti perbedaan dalam suka akan warna tertentu atau berbeda dari segi fisik, kamu punya rambut lurus, saya rambut keriting.

Yang terpenting bagaimana setiap orang yang berbeda itu bisa menyadari dirinya dan orang lain pun bisa menyadari dan mengakui keberadaannya, kemudian bisa mendapat perlakuan yang sama.

Namun kenyataannya, di Indonesia, keberadaan LGBT yang dinilai berbeda dengan kaum heteroseksual itu masih mendapat diskriminasi dan kekerasan dalam lingkungan keluarga maupun sosial.

Tahun 2013, Arus Pelangi pernah melakukan penelitian mengenai LGBT di tiga kota besar di Indonesia yakni di Jakarta, Yogyakarta dan Makassar. Hasilnya menyebutkan ada 89,3 persen kaum LGBT mengalami lima kekerasan. Yakni kekerasan fisik, psikis, seksual, budaya dan ekonomi.

Hal ini menunjukkan LGBT masih rentan di ruang publik, belum semua masyarakat termasuk pemerintah menerima dan mengakui keberaaan LGBT dan memperlakukannya sebagaimana WNI.

LGBT hanya ingin diakui haknya sebagai warga negara, LGBT ada bukan untuk menerima siksaan, pelecehan dan diskriminasi. Tidak boleh ada manusia yang berhak mendiskriminasi LGBT dan mengatakan LGBT adalah golongan pendosa karena menyalahi kodratnya. Orientasi seksual adalah pilihan LGBT dan tidak boleh ada yang ikut campur.

Halaman
12
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved