Cinta, Puisi dan Impian Romantis

Kita patut berterima kasih kepada orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk bergumul

Cinta, Puisi dan Impian Romantis
Net
Ilustrasi 

Oleh Irvan Kurniawan
Pemerhati Sosial-politik, Tinggal di Garda Nasionalis Penfui

Aku mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu

POS KUPANG.COM - Sebagai penikmat karya sastra, saya tak henti-hentinya merenungkan sepenggal syair manis karya Si Penyair Hujan, Sapadi Joko Damono ini. Bagi saya, secarik syair ini mampu menyerderhanakan teori-teori cinta yang diulas dalam berbagai buku 'berkelas' karya berbagai filsuf psiko-analisis bahkan sekelas Erich Fromm. Sapadi dalam kesederhanaan cintanya mengingatkan kita akan pentingnya pengorbanan dalam cinta seperti kayu yang rela terbakar dalam api yang menjadikannya abu.

Kita patut berterima kasih kepada orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk bergumul dengan kata, menyelami samudra kata dan merefleksikan realitas melalui kata-kata yang menyentuh rasa. Mereka mampu menyirami kerasnya realitas yang kadang mengamuk seperti badai di lautan ini menjadi taman sari kehidupan yang lebih hidup.

Meminjam Sokrates, jika hidup tanpa refleksi adalah hidup yang tak layak hidup, maka hidup tanpa keindahan sastra adalah hidup yang tak pantas dirayakan. Karena itu, sastra dan kehidupan, meminjam Bung Karno, seperti sepasang sayap burung dimana jikalau salah satuhnya patah, maka tak bisalah burung itu terbang tinggi menggapai langit.

14 Februari adalah moment yang dinanti-nantikan. Hari ini dinobatkan sebagai hari perayaan cinta bagi orang-orang yang masih berkelana mencari cinta maupun bagi mereka yang sudah menemukan cinta sejatinya untuk memahami bahwa cinta membutuhkan pengorbanan, seperti Pastor Valentinus yang rela mati karena diam-diam menyatukan pasangan kekasih dalam janji perkawinan pada zaman kekuasaan Kaisar Claudius di Italia pada abad ke-3. Saat itu, ambisi Kaisar Claudius untuk menguasai dunia mewajibkan pria-pria muda untuk menjadi prajurit tangguh tanpa menikah.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Kaisar Claudius hidup di tengah zaman 'kehausan' akan cinta ini, dimana globalisasi menyatukan dunia menjadi tanpa sekat dan jarak. Saya yakin seratus persen dia akan menjadi sasaran bully para netizen di dunia maya.

Para pecinta dari seluruh dunia sampai ke pelosok-pelosok terpencil juga disatukan dalam satu dunia virtual yang kerap disebut dunia maya. Dunia maya kerap kali menjadi ruang mencari jodoh, ruang curhat publik bahkan tak ayal dinding facebook menjadi papan ratapan senandung duka bagi para pecinta yang kehilangan cinta. Seorang penyair wanita muda menyebut facebook dengan beranda biru, dalam risalahnya, dia bersabda tentang kegalauan hatinya:

"Bukannya lupa, hanya ragu, apakah itu kata? Kalau kata, biar aku lengkapi"

Impian Romantis
Cinta masa kini memang terkadang lebih rumit dari cinta itu sendiri. Rumitnya ketika cinta telah bercampur baur dengan ' imaji material' yang justru menghimpitnya dalam labirin gelap tanpa makna. Coba lihat apa yang paling diinginkan pasangan di Hari Valentine? Di beranda facebook saya tergambar imajinasi maupun aksi dari beberapa teman di hari Valentine.

Ada yang berharap dapat kado dari kekasihnya, jalan-jalan di mall sambil shopping, menikah di ballroom hotel berbintang, menikmati kencan pertama di restaurant, bahkan malam itu setelah pulang dari acara salah satu organisasi di Kota Kupang, saya dan seorang teman sebut saja Bung Ferdi melihat penuh keheranan saat sekelompok pemuda, berpasangan, dengan motor matic merayakan Valentine dengan berugal-ugalan dengan menggunakan pakaian yang tidak enak dipandang.

Namun ada pula yang merayakannya dengan sederhana, seperti yang saya saksikan saat melintas di 'bukit cinta' Penfui, area belakang Undana, Kota Kupang. Mata saya secara tak sengaja tertuju pada pandangan romantis di atas bukit, saat di balik semak-semak, seorang cowok berlutut tepat di depan kekasihnya sambil memberikan cincin tanda cinta kepada sang kekasih. So sweet, mirip ketika Sang Pangeran melamar Cinderella di atas kereta kencana.

Sadar atau tidak, impian romantis ini telah merasuki pikiran sebagian orang tanpa refleksi mendalam apalagi refleksi kritis atas fenomena percintaan yang tersesat tanpa makna dalam imaji yang berlebihan. Eva Illouz menyebutnya 'Consuming Romance' dalam bukunya 'Consuming the Romantic Utopia: Love and the Cultural Contradictions of Capitalism'. Pemaknaan atas cinta menjadi kabur bahkan kehilangan nilai.

Cinta bukan lagi suatu getaran positif yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam dengan semangat pengorbanan, ketulusan, empati dan kasih sayang, tetapi meleset jauh ke dalam praktik cinta yang gamang, liar, dan tak bermakna. Di alam khayal ini pula cinta dan budaya konsumtif telah berlebur membentuk pemaknaan baru atas cinta. Kita sulit membedakan mana cinta, mana nafsu, dan mana kegilaan.

Memaknai Valentine adalah menghidupkan kembali semangat pengorbanan tanpa pamrih, kepekaan atas penderitaan sesama, dan keberanian untuk mengatakan sekaligus menerima cinta tanpa iming-iming 'imaji konsumtif' yang justru mengaburkan makna cinta. Dengan itu, seperti sastra, cinta mampu mencarikan kembali kerasnya realitas yang semakin jauh dari nilai kemanusiaan. Kembali mengutip Sapadi, bahwa cinta sejati adalah mencintai dengan sederhana seperti kayu yang rela terbakar oleh api yang menjadikannya abu.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved