Seuntaian Kisah Tentang Cinta Sejati, Paus Fransiskus, Messi dan Maradona
SAMA-sama berasal dari negeri Tim Tango Argentina, baik Paus Fransiskus maupun Lionel Messi dan Diego Maradona mengukir satu kisah besar nan mendasar
Cinta sejati mewujud dalam perilaku hidup yang produktif, perilaku hidup yang menunjukkan kepedulian serta kehendak berbagi pada sesama.
SAMA-sama berasal dari negeri Tim Tango Argentina, baik Paus Fransiskus maupun Lionel Messi dan Diego Maradona mengukir satu kisah besar nan mendasar dari penziarahan setiap manusia di kolong langit yakni cinta diri atau (hal) mementingkan diri sendiri.
Cinta diri diterjemahkan secara berbeda dan bervariasi oleh ketiganya. Pemimpin umat Katolik sedunia itu memilih untuk menjaga jarak ketika berhadapan dengan cinta diri. Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin itu justru menerapkan semangat hidup yang ugahari atau bersahaja dan sederhana. Ia lebih mementingkan orang lain, ketimbang diri sendiri.
Di mata Kardinal Jorge Mario Bergoglio, cinta diri sama sebangun dengan kata "menolak" segala apa yang berkaitan dan berdekatan dengan hal-hal yang nikmat, yang mengenakkan, yang meninabobokan. Ia menolak untuk mengenakan cincin bergambar nelayan bersalut emas, tetapi memilih cincin perak. Ia menukar salib emas yang umumnya dipakai oleh seorang paus dengan sebuah salib besi. Dan ia menolak "mobil paus", sebuah mobil yang didesain secara spesial bagi paus ketika tampil di hadapan umum.
Sikap ugahari itu telah mendarahdaging lantaran ketika masih mengemban tugas sebagai Uskup Agung Buenos Aires, ia menolak tinggal di istana uskup agung, yang nota bene sebuah istana megah berdekatan dengan istana Presiden Argentina. Ia bahkan kerapkali terlihat menempuh perjalanan dengan menggunakan angkutan umum bus atau kereta api dalam kota.
Sejatinya, cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri bukanlah pilihan, semisal A atau B. Cinta sejati mewujud dalam perilaku hidup yang produktif, perilaku hidup yang menunjukkan kepedulian dan kebersamaan, serta kehendak berbagi kepada sesama. Cinta yang sejati senantiasa mengarah kepada pribadi yang dicintai atau lebih bersedia "memberi" ketimbang menerima.
Lionel Messi, bintang Barcelona meraih Ballon d'Or 2015 di Zurich, Swiss, pada Selasa (12/1/2016). Ini menjadi Ballon d'Or kelima bagi pemain berjuluk La Pulga itu. Selain itu, ia memberi yang terbaik bagi kejayaan tim dan negaranya.
Bagi kejayaan Barcelona, Messi memberi tiga gelar bergengsi dan terakhir mempersembahkan trofi di Piala Dunia Antarklub. Ia juga mengantarkan Timnas Argentina keluar sebagai finalis Copa America 2015.
Sederet raihan prestasi menjulang itu lahir dari rahim kehendak berbagi kepada sesama dengan memilih perilaku yang produktif, bukan perilaku konsumtif. Messi membei sukacita kepada dunia. Ia tampil sebanyak 53 kali untuk Barcelona sepanjang 2015 dengan menorehkan 48 gol dan 23 asis. Ia juga mencetak gol menawan di final Liga Champions ketika melawan Bayern Muenchen.
Messi bertumbuh dan besar dari klub Argentina Newell's Old Boys kemudian diboyong Barcelona pada usia 13 tahun. Klub barunya ini mengeluarkan dana perawatan bagi penyembuhan La Pulga yang mengalami kelainan hormon. Pada 2012, ia meraih predikat sebagai pencetak gol terbanyak bagi klubnya, padahal usianya baru 24 tahun.
Paus Fransiskus dan Lionel Messi mengartikan pribadi yang mencintai diri sendiri juga tidak mampu mencintai orang lain, bahkan tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Keduanya ingin menjalani hidup untuk banyak berbagi kepada orang lain, tidak menganggap dirinya serba nomor satu, tetapi justru ingin memberi sebanyak-banyaknya bagi sesama.
Sebaliknya, legenda sepak bola Argentina Diego Maradona, justru anggap dirinya pemain bola nomor satu sedunia dengan mencetak gol berjuluk "gol tangan Tuhan" pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Mata hati dunia terbelalak ketika Maradona dirasuk cinta diri. Ketika melawan Inggris dalam perhelatan akbar sepakbola itu, pemain berjuluk el pibe d'oro atau si anak emas itu mencetak dua gol ajaib.
Gol pertama ia lesakkan dengan menggunakan tangan, sementara gol kedua ia ceploskan setelah menggiring bola sejauh hanpir tiga perempat lapangan dengan melewati sejumlah pemain skuad Three Lions. Duel itu akhirnya berakhir 2-1 bagi kemenangan tim Tango meski diwarnai dengan cinta diri Maradona yang berlebihan. Setelah laga, ia tidak menunjukkan penyesalan dengan gol yang dia cetak dengan menggunakan tangan.
Terbakar oleh bara cinta diri yang mementingkan diri pribadi, Maradona cenderung membanggakan diri dengan menyatakan, "Gol itu, sebagian dari kepala Maradona, sebagian lagi dari Tuhan." Hal yang ganjil, manakala gol Tangan Tuhan dirayakan jauh lebih meriah ketika oleh rakyat Argentina dibandingkan dengan gol kedua yang dianggap sebagai gol terbaik sepanjang masa.
"Kami merayakan gol yang buruk itu lebih meraih ketimbangkan gol yang indah itu, sebab musuh kami adalah Inggris," kata striker Argentina di Piala Dunia 1986, Jorge Valdano. Terang benderang bahwa cinta diri memancarkan perseteruan kepada sesama. Cinta diri bersahabat karib dengan kediktatoran.
Paus Fransiskus, Messi, dan Maradona berpaspor Argentina. Abad ke-20 di negeri itu, sama seperti di banyak negera Amerika Latin, dicirikan dengan kediktatoran. Tidak jarang terjadi kudeta militer dan penindasan militer kepada masyarakat sipil.
Tahun 1930-an, terjadi kediktatoran pertama di Argentina yang disusul dengan krisis ekonomi. Pada tahun 1943, para petinggi militer mengorganisasikan diri sebuah kudeta yang memproklamasikan diri sebagai Revolusi 1943.
Kediktatoran berakhir dengan kemunculan Juan Domingo Peron yang dibaptis sebagai politikus Argentina yang kondang, dengan mengandalkan peronisme, sebuah gerakan yang mengandalkan dan memfokuskan diri kepada aspek kerakyatan. Muncullah Eva Peron di panggung politik dengan tembang andalan pelipur lara duka Don't cry for me Argentina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/messi_20160123_181655.jpg)